Gunung Burni Telong meningkat aktivitasnya hingga status siaga, memaksa ribuan warga di lima desa mengungsi demi keselamatan.
Kecemasan melanda Bener Meriah, Aceh, setelah status Gunung Bur Ni Telong dinaikkan menjadi Level III (Siaga). Peningkatan aktivitas seismik yang signifikan memaksa ribuan warga dari lima desa untuk segera meninggalkan rumah mereka dan mencari perlindungan di tempat yang lebih aman. Evakuasi massal ini menjadi cerminan dari kesigapan pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi potensi bahaya erupsi.
Temukan rangkuman informasi menarik tentang rakyat lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di NASIB RAKYAT.
Gunung Bur Ni Telong Siaga, Ribuan Warga Mengungsi
Setelah status Gunung Bur Ni Telong dinaikkan ke level siaga, warga dari lima desa di Bener Meriah, Aceh, segera dievakuasi. Mereka adalah penduduk dari Desa Rembune, Pantan Pediangan, Pajar Harapan, Damaran Baru, dan Bukit Mulia. Kesigapan warga untuk mengungsi terlihat jelas seiring dengan peningkatan aktivitas gempa.
Kepala BPBD Bener Meriah, Safriadi, mengonfirmasi proses evakuasi ini pada Rabu (31/12/2025). Lokasi pengungsian utama disiapkan di kompleks kampus Unsyiah Kampung Mekar Ayu, Kecamatan Timang Gajah. Beberapa warga juga memilih mengungsi ke rumah keluarga atau kantor camat, mencari tempat yang dirasa lebih aman.
Langkah evakuasi ini merupakan respons cepat terhadap potensi ancaman. Koordinasi antara BPBD dan masyarakat sangat penting untuk memastikan keselamatan semua pihak. Kesadaran akan risiko bencana menjadi kunci utama dalam memitigasi dampak yang lebih besar.
Ayo bergabung di chanel whatsapp Nasibrakyat, dapatkan informasi terkini lebih cepat
Peningkatan Aktivitas Seismik Memicu Kenaikan Status
Kenaikan status Gunung Bur Ni Telong dari Waspada menjadi Siaga dipicu oleh peningkatan aktivitas gempa yang signifikan. Badan Geologi Kementerian ESDM menaikkan status gunung tersebut setelah terjadinya gempa dengan magnitudo (M) 4,5, diikuti oleh serangkaian gempa susulan. Ini menunjukkan perubahan drastis pada kondisi geologi gunung.
Informasi dari Badan Geologi Kementerian ESDM menyebutkan bahwa pada malam hari tercatat tujuh kali gempa terasa, berpusat sekitar lima kilometer barat daya puncak gunung. Gempa-gempa ini kemudian diikuti oleh peningkatan gempa vulkanik dalam (VA) dan gempa vulkanik dangkal (VB).
Hingga pukul 22.45 WIB, tercatat tujuh kali gempa vulkanik dangkal, empat belas kali gempa vulkanik dalam, satu kali gempa tektonik lokal, dan satu kali gempa tektonik jauh. Peningkatan frekuensi dan intensitas gempa ini menjadi indikator kuat bahwa aktivitas magmatik di bawah gunung sedang meningkat.
Baca Juga: Rapat Bencana Aceh Bersama DPR Tanpa Sapaan ‘Yang Terhormat’
Respons Cepat Aparat Keamanan Dan Pemerintah Daerah
Kapolres Bener Meriah AKBP Aris Cai Dwi Susanto menjelaskan bahwa evakuasi segera dilakukan setelah status gunung dinaikkan. Personel polisi dan Brimob Polda Aceh dikerahkan ke desa-desa untuk membantu proses pengungsian warga. Kehadiran aparat keamanan sangat penting untuk menjaga ketertiban dan kelancaran evakuasi.
Warga meninggalkan desa mereka menggunakan kendaraan roda dua maupun empat, sambil membawa berbagai keperluan. Proses evakuasi berjalan tertib dan lancar berkat kerja sama yang baik antara warga dan petugas. Ini mencerminkan koordinasi yang efektif dalam penanganan bencana.
“Kami telah mengevakuasi sejumlah warga dari tiga kampung ke Kampus Unsyiah. Langkah ini merupakan bentuk antisipasi untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan akibat meningkatnya aktivitas Gunung Bur Ni Telong,” kata Aris. Ini menunjukkan keseriusan pihak berwenang dalam melindungi keselamatan masyarakat.
Pengamatan Visual Dan Instrumental Mendukung Kenaikan Status
Berdasarkan pengamatan visual, gunung api terlihat jelas dan asap kawah tidak teramati, namun data instrumental menunjukkan hal yang berbeda. Peningkatan jumlah gempa vulkanik merupakan indikator utama dari aktivitas di bawah permukaan yang tidak dapat dilihat secara langsung. Oleh karena itu, keputusan kenaikan status sangat bergantung pada data instrumental yang akurat.
Peningkatan status dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) efektif sejak 30 Desember 2025 pukul 22.45 WIB. Keputusan ini diambil berdasarkan analisis komprehensif dari seluruh data yang terkumpul. Hal ini menunjukkan profesionalisme Badan Geologi dalam memantau dan mengambil keputusan terkait aktivitas gunung berapi.
Meskipun secara visual tampak tenang, data instrumental adalah kunci dalam menentukan tingkat bahaya. Kenaikan status siaga ini bertujuan untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat dan pemerintah daerah agar selalu waspada dan siap menghadapi segala kemungkinan. Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama.
Dapatkan berita viral, trending, tentang rakyat paling menarik lainnya, eksklusif hanya di seputaran NASIB RAKYAT sumber informasi terkini yang selalu terupdate.
- Gambar Utama dari aceh.tribunnews.com
- Gambar Kedua dari rri.co.id