Menteri Bahlil menjelaskan perbaikan kelistrikan di Aceh menghadapi tantangan berat, sehingga pemulihan diperkirakan memerlukan waktu lebih lama.
Pasca-bencana, Sumatera menghadapi tantangan luar biasa dalam memulihkan pasokan listrik. Kerusakan infrastruktur yang masif, ditambah kondisi medan yang sulit dijangkau, membuat upaya perbaikan menjadi maraton panjang. Pemerintah, melalui Kementerian ESDM, mengakui beratnya medan perjuangan ini, namun optimisme tetap digaungkan.
Berikut ini NASIB RAKYAT akan mengupas tuntas upaya pemulihan, kendala yang dihadapi, serta harapan bagi masyarakat yang terdampak.
Medan Perjuangan Berat, Infrastruktur Hancur Lebur
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, melaporkan bahwa pemulihan sektor energi, terutama kelistrikan serta distribusi BBM dan LPG, menghadapi rintangan berat. Infrastruktur kelistrikan mengalami kerusakan parah, diperparah oleh keterbatasan akses menuju lokasi terdampak. Kondisi ini memperpanjang durasi perbaikan yang dibutuhkan.
Secara teknis, di Banda Aceh, kapasitas pembangkit sekitar 110 MW, dengan beban rata-rata 66 MW, meskipun sebagian masih bergantung pada genset. Bahlil optimis jaringan induk akan normal dalam beberapa minggu, memungkinkan aliran listrik dari Arun dan Bireuen masuk secara penuh.
Namun, meskipun transmisi antarpulau Sumatera sudah terkoneksi, distribusi ke desa-desa masih terhambat. Banyak jalan yang sulit dilalui, tiang listrik roboh, dan beberapa desa masih terendam banjir. Memaksakan aliran listrik ke area terendam berpotensi menyebabkan kecelakaan serius.
Ayo bergabung di chanel whatsapp Nasibrakyat, dapatkan informasi terkini lebih cepat
Distribusi BBM Dan LPG, Antara Darat, Udara, Dan Rakit
Selain listrik, Bahlil juga menyoroti kondisi pasokan BBM dan LPG. Di Sumatera Barat, situasinya relatif lebih baik. Sementara di Sumatera Utara, ketersediaan LPG menjadi masalah utama akibat jalan yang terganggu, sehingga pasokan tambahan harus melalui jalur laut.
Situasi di Aceh jauh lebih berat, khususnya di tiga kabupaten yang hanya bisa dijangkau melalui udara untuk memenuhi kebutuhan BBM dan LPG. Ini menunjukkan skala tantangan logistik yang dihadapi pemerintah dalam menyalurkan bantuan vital.
Upaya luar biasa dilakukan, termasuk penyaluran pasokan BBM dan LPG menggunakan helikopter, pesawat Hercules, “jalan tikus,” dan bahkan rakit. Pemerintah memaksimalkan segala cara untuk mempercepat distribusi, menunjukkan komitmen kuat dalam membantu masyarakat terdampak.
Baca Juga: Prabowo Perintahkan Pemeriksaan Seluruh Kades Soal Penggunaan Anggaran
Progres Pemulihan Listrik, Harapan di Tengah Keterbatasan
Per 15 Desember 2025, tim ESDM Siaga Bencana melaporkan bahwa secara nasional, dari 1.789.566 pelanggan yang terdampak, 1.591.271 pelanggan telah kembali menyala. Ini menunjukkan progres signifikan meskipun dengan segala kendala di lapangan.
Di Aceh, 774.401 dari 970.954 pelanggan telah menyala kembali. Dari 6.500 desa terdampak, 5.961 desa sudah terang benderang. Meskipun demikian, 539 desa masih gelap, dengan Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Aceh Tamiang sebagai kabupaten dengan desa padam terbanyak.
Sumatera Utara juga menunjukkan pemulihan yang baik, dengan 543.346 dari 554.048 pelanggan telah menyala. Namun, hujan deras dan longsor menyebabkan tiga kabupaten belum sepenuhnya teraliri listrik. Sementara di Sumatera Barat, banjir susulan membuat 273.804 dari 274.564 pelanggan sempat padam, kini sebagian besar sudah kembali menyala.
Satuan Tugas Rekonstruksi, Membangun Kembali Harapan
Presiden Prabowo Subianto berencana membentuk satuan tugas (satgas) atau badan rekonstruksi untuk mempercepat penanganan bencana di Sumatera. Satgas ini akan fokus pada rehabilitasi dan rekonstruksi pemukiman, infrastruktur, serta fasilitas sosial di wilayah terdampak.
Presiden menekankan kemudahan dalam proses rekonstruksi, termasuk pengadaan lahan dan pendanaan, dengan anggaran APBN dari efisiensi yang telah dilakukan. Ini menunjukkan prioritas pemerintah untuk mempercepat pemulihan dan pembangunan kembali.
Bantuan dana operasional taktis sebesar Rp20 miliar untuk gubernur dan Rp4 miliar untuk bupati/wali kota di 52 kabupaten/kota terdampak langsung telah disalurkan. Dana ini, di luar anggaran pemulihan, diharapkan dapat segera mempercepat langkah-langkah darurat di lapangan.
Dapatkan berita viral, trending, tentang rakyat paling menarik lainnya, eksklusif hanya di seputaran NASIB RAKYAT sumber informasi terkini yang selalu terupdate.
- Gambar Utama dari dunia-energi.com
- Gambar Kedua dari cnbcindonesia.com