Banjir Bandang Rendam Grobogan, 9.736 KK Terpaksa Tinggalkan Rumah

9.736 KK Terpaksa Tinggalkan Rumah 9.736 KK Terpaksa Tinggalkan Rumah
Bagikan

Banjir bandang melanda Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, merendam permukiman dan infrastruktur sebanyak 9.736 kepala keluarga dari 45 desa.

9.736 KK Terpaksa Tinggalkan Rumah

Evakuasi massal dilakukan oleh BPBD, TNI-Polri, dan relawan, sementara tanggul yang jebol diperbaiki untuk mencegah kerusakan lebih parah. Warga diminta tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, sementara bantuan logistik dan peralatan darurat terus disalurkan untuk memastikan keselamatan masyarakat.

Simak informasi terbaru dan terviral tentang bencana alam yang terjadi yang akan kita bahas hanya ada di NASIB RAKYAT.

Ayo bergabung di chanel whatsapp Nasibrakyat, dapatkan informasi terkini lebih cepat

Grobogan Terendam Banjir, Ribuan Warga Terpaksa Mengungsi

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, mencatat sekitar 9.736 kepala keluarga (KK) terdampak banjir yang melanda 45 desa. Banjir ini terjadi akibat hujan deras yang mengguyur wilayah sejak Minggu malam, 15 Februari 2026, hingga Senin dini hari, ditambah kiriman air dari beberapa sungai hulu yang meluap.

Kepala Pelaksana BPBD Grobogan, Wahyu Tri Darmawanto, menyebutkan, selain merendam permukiman dan infrastruktur, banjir juga menyebabkan satu rumah rusak berat dan satu rumah rusak sedang di Desa Ngrandah, Kecamatan Toroh. “Hujan deras memang memicu banjir, namun luapan air sungai juga berperan signifikan,” ujarnya.

Sungai yang menyebabkan banjir antara lain Sungai Glugu, Jajar, Tuntang, dan Lusi, di mana debit air meningkat drastis hingga tidak mampu ditampung. Akibatnya, air meluap ke permukiman warga, memicu kepanikan dan kerugian material yang cukup besar.

Tanggul Jebol dan Dampak Luas Banjir

BPBD Grobogan mencatat beberapa tanggul jebol yang memperparah banjir, antara lain di Sungai Cabean, Desa Tajemsari (Kecamatan Tegowanu); Sungai Jajar Baru di Dusun Krasak dan Dusun Klampisan, Desa Mojoagung (Kecamatan Karangrayung); serta Sungai Jratun di Dusun Mbaru, Desa Kebonagung (Kecamatan Tegowanu).

Di Kecamatan Godong, tanggul Sungai Tuntang yang jebol menyebabkan banjir meluas hingga Desa Tinanding. Sementara di Kecamatan Purwodadi, wilayah terdampak terparah berada di Kelurahan Kalongan dengan 1.180 KK terdampak. Ketinggian air di Perumahan Permata Hijau Kalongan dilaporkan mencapai satu meter.

Desa Cingkrong menjadi wilayah paling terdampak dengan 2.416 KK terdampak dan ketinggian air antara 10-50 sentimeter. Banjir juga merendam area persawahan di Tegowanu, Godong, dan Tawangharjo. Di Desa Tinanding, sekitar 130 hektare sawah siap panen terendam, mengancam hasil pertanian dan mata pencaharian petani setempat.

Baca Juga: Hujan Deras Terus! Debit Sungai di Sumsel Naik, Warga Diminta Waspada

Evakuasi dan Bantuan Darurat Dilakukan

Evakuasi dan Bantuan Darurat Dilakukan=

BPBD bersama TNI-Polri, relawan, dan Forkopimda melakukan evakuasi warga di sejumlah titik terdampak, termasuk Kecamatan Toroh, Purwodadi, dan Godong. Distribusi bantuan logistik serta peralatan darurat juga telah disalurkan, seperti makanan siap saji, air bersih, dan perahu karet untuk membantu warga menyeberangi wilayah tergenang.

Selain evakuasi, dilakukan kerja bakti peninggian tanggul dan pembersihan lumpur pasca jebol di ruas jalan Purwodadi Semarang, Desa Tinanding, yang berbatasan dengan Kabupaten Demak. Pemerintah daerah bersama Forkopimda mendampingi Gubernur Jawa Tengah meninjau lokasi tanggul jebol serta menggelar rapat koordinasi.

Langkah-langkah ini bertujuan untuk meminimalkan kerugian, mempercepat pemulihan, dan memastikan keselamatan warga. Masyarakat juga diimbau tetap waspada, terutama yang tinggal di sepanjang aliran sungai, karena potensi banjir susulan masih ada.

Kondisi Terkini dan Imbauan Warga

Hingga Selasa sore, 17 Februari 2026, sejumlah wilayah masih tergenang, termasuk Kecamatan Purwodadi, Toroh, Tegowanu, Godong, Gubug, dan Tawangharjo. Meski begitu, sebagian besar wilayah lainnya mulai mengalami penurunan muka air dan banjir berangsur surut.

Berdasarkan pantauan di Bendung Sedadi, Bendung Klambu, dan Pos Menduran, debit dan tinggi muka air menunjukkan tren menurun. Hal ini menjadi indikasi bahwa banjir mulai reda, meski masyarakat tetap diminta waspada terhadap hujan lokal maupun luapan sungai mendadak.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Utama dari metrotvnews.com
  • Gambar Kedua dari metrotvnews.com