Rumah dan Usaha Musnah, Keluarga di Pidie Jaya Bangkit dari Huntara

Keluarga di Pidie Jaya Bangkit dari Huntara Keluarga di Pidie Jaya Bangkit dari Huntara
Bagikan

Rumah dan usaha milik sebuah keluarga di Pidie Jaya, Aceh, musnah diterjang banjir yang melanda wilayah tersebut.

Keluarga di Pidie Jaya Bangkit dari Huntara

Kini mereka harus memulai kehidupan baru dari hunian sementara (huntara) bersama para penyintas lainnya. Meski kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan, semangat untuk bangkit tetap kuat. Kisah perjuangan mereka mencerminkan keteguhan warga menghadapi bencana.

Simak informasi terbaru dan terviral tentang bencana alam yang terjadi yang akan kita bahas hanya ada di NASIB RAKYAT.

nonton gratis piala dunia 2026 STADIONLIVE LIVE STREAMING WORLD CUP 2026

Harapan Penyintas di Hunian Sementara

Di tengah kehidupan yang serba terbatas di hunian sementara (huntara), semangat untuk bangkit tetap terlihat dari para penyintas bencana banjir di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Meski kehilangan rumah dan harta benda, para warga berusaha menjalani hari-hari mereka dengan penuh harapan.

Salah satu penyintas adalah Yuliana, warga Dusun Meunasah Krueng, Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu. Kini ia tinggal bersama suami dan tiga orang anaknya di huntara setelah rumah mereka hanyut terbawa arus banjir yang melanda kawasan tersebut. Kehidupan yang dulu terasa normal kini berubah drastis sejak bencana itu datang.

Yuliana mengungkapkan bahwa keluarganya sudah hampir satu bulan tinggal di hunian sementara tersebut. Sebelum dipindahkan ke huntara, mereka sempat menempati tenda pengungsian yang berada di pinggir jalan. Kondisi di tenda cukup berat karena banyak debu dan tidak nyaman untuk ditinggali dalam waktu lama.

POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL

Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026! Nonton Semua Pertandingan Tanpa Batas, lewat LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal. Ayo Download Sekarang!

aplikasi nonton bola shotsgoal apk

Rumah Hanyut, Nafkah Hilang

Banjir besar yang melanda wilayah Meureudu tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga menghancurkan sumber penghidupan keluarga. Banyak warga yang kehilangan usaha kecil yang selama ini menjadi penopang ekonomi keluarga. Kondisi tersebut membuat mereka harus memulai kembali kehidupan dari titik nol.

Hal serupa juga dialami oleh Yuliana. Rumah yang ia tempati bersama keluarganya sekaligus menjadi tempat usaha kecil berupa warung kelontong. Warung itu berada di bagian depan rumah, sementara keluarganya tinggal di bagian belakang.

Namun ketika banjir datang dengan arus yang sangat kuat, seluruh bangunan rumah beserta barang-barang di dalamnya hanyut terbawa air. Tidak ada satu pun yang tersisa dari tempat tinggal maupun usaha mereka. Peristiwa tersebut menjadi pukulan berat bagi keluarga Yuliana yang kini harus kehilangan tempat tinggal sekaligus sumber pendapatan.

Baca Juga: Krisis Sampah di Krukut Jakbar! Jalan Macet Dan Kesehatan Warga Terancam!

Kehidupan Baru di Hunian Sementara

Kehidupan Baru di Hunian Sementara

Meski harus tinggal di hunian sementara dengan fasilitas terbatas, Yuliana mengaku tetap bersyukur. Baginya, huntara jauh lebih layak dibandingkan tenda pengungsian yang sebelumnya mereka tempati. Setidaknya keluarganya kini memiliki tempat berteduh yang lebih aman dan tidak lagi dipenuhi debu dari jalan raya.

Namun kehidupan di huntara tentu memiliki tantangan tersendiri. Pada siang hari, suhu di dalam hunian terasa cukup panas karena material bangunan yang sederhana. Sementara pada malam hari, udara terasa lebih dingin dibandingkan kondisi di kampung halaman mereka.

Selain itu, aktivitas anak-anak yang tinggal di kawasan huntara membuat suasana menjadi cukup ramai. Meski demikian, Yuliana dan keluarganya berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut. Mereka mencoba menjalani kehidupan baru sambil menunggu masa depan yang lebih baik.

Harapan Akan Rumah Baru

Di tengah situasi sulit yang mereka alami, harapan terbesar Yuliana adalah bisa kembali memiliki rumah permanen. Pemerintah telah merencanakan program hunian tetap (huntap) bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat akibat banjir. Program tersebut menjadi secercah harapan bagi para penyintas untuk memulai kembali kehidupan mereka.

Yuliana mengatakan bahwa lokasi pembangunan hunian tetap sudah mulai diinformasikan kepada warga. Sebagian warga memilih membangun rumah di tanah milik sendiri, sementara sebagian lainnya akan menempati lahan yang disediakan pemerintah. Proses tersebut masih terus berjalan sambil menunggu realisasi pembangunan.

Bagi Yuliana dan warga lainnya, hunian tetap bukan sekadar bangunan rumah. Lebih dari itu, hunian tetap menjadi simbol harapan baru setelah masa sulit yang mereka alami akibat bencana.


Sumber Gambar:

  • Gambar pertama dari news.detik.com
  • Gambar kedua dari news.detik.com