Banjir di Pidie Jaya kembali melanda, mengubah jalan menjadi sungai deras, memaksa warga mengungsi dan terlantar.
Bencana banjir kembali melanda Aceh, meninggalkan kehancuran dan trauma mendalam bagi masyarakat. Pidie Jaya menjadi saksi keganasan alam, di mana jalanan berubah menjadi sungai deras, memaksa warga mengungsi dan hidup dalam ketakutan banjir susulan. Situasi darurat ini memerlukan perhatian dan penanganan cepat dari berbagai pihak.
Temukan rangkuman informasi menarik tentang rakyat lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di NASIB RAKYAT.
Pidie Jaya Dalam Cengkeraman Banjir
Kabupaten Pidie Jaya kembali diuji musibah banjir yang menyebabkan kondisi darurat. Di Kecamatan Meurah Dua, Gampong Meunasah Mancang dan Dayah Usen, jalan utama berubah menjadi alur sungai. Air bah dari Krueng Meureudue menggenangi ruas jalan Pante Beureune hingga Dayah Usen setinggi mata kaki orang dewasa.
Selain genangan air, lumpur tebal juga menjadi pemandangan umum di kedua gampong tersebut. Tumpukan tanah lumpur di sisi kiri dan kanan jalan seringkali meluber ke badan jalan saat hujan, menjadikannya licin dan becek. Kondisi ini memperparah aksesibilitas warga dan menghambat upaya pembersihan pasca-banjir.
Warga yang terdampak, seperti Nurbaiti dan Fatimah dari Gampong Dayah Usen, mengungkapkan bahwa banjir susulan kerap terjadi. Peristiwa ini dipicu oleh luapan Krueng Meureudue yang diakibatkan oleh curah hujan tinggi di Pidie Jaya. Kejadian berulang ini menimbulkan kekhawatiran dan trauma yang mendalam di kalangan penduduk.
Ayo bergabung di chanel whatsapp Nasibrakyat, dapatkan informasi terkini lebih cepat
Trauma Banjir Susulan Menghantui Warga
Banjir yang telah melanda Pidie Jaya bukan hanya sekali, melainkan telah terjadi empat kali secara beruntun. Frekuensi kejadian ini meninggalkan trauma mendalam bagi warga, terutama mereka yang harus mengungsi. Ketakutan akan banjir susulan senantiasa menghantui, membuat warga waspada dan cemas setiap kali hujan deras turun.
Kisah warga Dayah Usen pada Senin malam (29/12/2025) menjadi gambaran nyata kepanikan yang mereka alami. Mereka harus mengungsi ke meunasah dalam kondisi “kalang kabut” akibat luapan air yang tiba-tiba. Pengalaman pahit ini meninggalkan jejak psikologis yang sulit dihapuskan, membutuhkan dukungan moral dan spiritual untuk memulihkan kondisi mental mereka.
Di pinggir jalan, terlihat warga yang terdampak banjir menunggu uluran tangan bantuan dari masyarakat maupun donatur. Setiap ada mobil yang melintas, mereka segera mendekat, berharap mendapatkan makanan atau kebutuhan lainnya. Pemandangan ini mencerminkan kondisi darurat dan kebutuhan mendesak yang dihadapi para korban banjir.
Baca Juga: Korban Bencana Terima Dana Tunggu Harian Dari Pemkot Sibolga
Seruan Mendesak Untuk Penanganan Cepat
Korban banjir di Pidie Jaya mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie Jaya untuk segera mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara). Keberadaan huntara sangat krusial mengingat seringnya banjir susulan yang menerjang pemukiman penduduk. Ketersediaan tempat tinggal yang layak dan aman menjadi prioritas utama bagi mereka.
DPR-RI juga turut menyuarakan keprihatinannya, menduga banjir di Pidie Jaya disebabkan oleh pembukaan lahan sawit. Mereka mendesak Kementerian Kehutanan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam pembukaan lahan. Investigasi ini diharapkan dapat mengidentifikasi akar masalah dan mencegah bencana serupa di masa depan.
Bupati Aceh Timur memanggil BUMN untuk bantuan BBM dan huntara mempercepat pemulihan. Masa tanggap darurat banjir Aceh Utara diperpanjang, fokus pada validasi data dan pemulihan. Kementerian ESDM menyalurkan 1.000 genset untuk wilayah terdampak banjir dan longsor.
Solidaritas Dan Harapan di Tengah Bencana
Di tengah musibah ini, semangat gotong royong dan kepedulian antarsesama menjadi sangat terasa. Relawan ASN bersama Sekda Aceh memantau dan membersihkan sekolah serta fasilitas umum di kawasan bencana, menunjukkan komitmen pemerintah dalam membantu pemulihan. Aksi-aksi sosial ini memberikan harapan bagi para korban.
Peristiwa ini juga memicu refleksi dari berbagai pihak, termasuk Ayahwa di DPR RI, yang dengan tegas menyatakan dampak banjir lebih parah dari tsunami. Ia mengkritik pemerintah pusat yang dianggap “tutup mata” terhadap kondisi ini, menyerukan perhatian lebih serius terhadap bencana banjir yang kerap melanda Aceh.
Dengan adanya perhatian dari berbagai pihak, baik pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, maupun individu, diharapkan penanganan banjir di Pidie Jaya dapat berjalan efektif. Pemulihan infrastruktur, dukungan psikososial, serta upaya mitigasi bencana jangka panjang menjadi kunci untuk mengembalikan kehidupan normal warga dan mencegah trauma berulang.
Dapatkan berita viral, trending, tentang rakyat paling menarik lainnya, eksklusif hanya di seputaran NASIB RAKYAT sumber informasi terkini yang selalu terupdate.
- Gambar Utama dari aceh.tribunnews.com
- Gambar Kedua dari acehnews.id