BPBD Jawa Tengah masih menelusuri asal kayu gelondongan yang terbawa arus banjir bandang di Kabupaten Pemalang.
Material kayu tersebut menyebabkan kerusakan rumah warga dan infrastruktur di sejumlah desa terdampak. Hingga kini, BPBD belum memastikan sumber kayu gelondongan yang ramai diperbincangkan di media sosial. Simak informasi terbaru dan terviral tentang bencana alam yang terjadi yang akan kita bahas hanya ada di NASIB RAKYAT.
Bencana Hidrometeorologi Terus Menghantui Jawa Tengah
Bencana hidrometeorologi masih menjadi ancaman serius di sejumlah wilayah Jawa Tengah hingga akhir Januari 2026. Curah hujan tinggi yang terjadi secara merata memicu banjir bandang dan tanah longsor di berbagai kabupaten. Salah satu wilayah yang menjadi sorotan utama adalah Kabupaten Pemalang, yang mengalami banjir disertai material kayu.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat karena kayu-kayu tersebut terbawa arus deras dan menghantam permukiman warga. Sejumlah rumah dan infrastruktur rusak akibat terjangan air bercampur material alam. Situasi ini memperparah dampak banjir dan menyulitkan proses penanganan darurat di lapangan.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus memantau perkembangan situasi. Penanganan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan pemerintah kabupaten, relawan, serta aparat keamanan guna memastikan keselamatan warga terdampak.
Lereng Gunung Slamet Dilanda Banjir Bandang
Kepala Bidang Pengendalian Operasi dan Pengelolaan Data Informasi BPBD Jawa Tengah, Armin Nugroho, menyampaikan bahwa banjir bandang dan longsor di lereng Gunung Slamet terjadi pada 23-24 Januari 2026. Arus air yang deras membawa berbagai material, termasuk kayu gelondongan, yang diduga berasal dari kawasan hulu.
Menurut Armin, BPBD masih melakukan kajian terkait asal-usul kayu gelondongan yang ramai diperbincangkan di media sosial. Ia menyebutkan bahwa pohon-pohon di lereng Gunung Slamet memang berpotensi terbawa arus, namun sumber pasti kayu tersebut masih memerlukan pendalaman lebih lanjut.
Fenomena banjir bandang ini menunjukkan rapuhnya kondisi lingkungan di kawasan pegunungan. Selain faktor cuaca ekstrem, perubahan tata guna lahan juga diduga memperbesar risiko terjadinya bencana serupa di masa mendatang.
Baca Juga: Pemprov DKI Keruk Sungai Dan Saluran Air Untuk Antisipasi Banjir
Situasi Pengungsi dan Dampak Kerusakan Infrastruktur
Bencana terparah di Kabupaten Pemalang tercatat di Desa Gunungsari, Jurangmangu, dan Penakir, Kecamatan Pulosari. BPBD mencatat sebanyak 2.357 jiwa terpaksa mengungsi akibat banjir dan longsor yang merusak rumah mereka. Sebagian warga menerapkan pola siang hari kembali ke rumah dan malam hari.
Akses jalan menuju desa-desa terdampak sempat terputus, namun kini sebagian besar sudah dapat dilalui. Warga memanfaatkan waktu siang hari untuk membersihkan rumah dari lumpur dan sisa material banjir. Aktivitas ini dilakukan dengan tetap waspada terhadap potensi hujan lanjutan.
Kerusakan infrastruktur cukup signifikan. Di Desa Penakir terdapat 12 rumah rusak berat dan tujuh rumah rusak sedang. Sementara di Desa Sima, Kecamatan Moga, tercatat 33 rumah terdampak dengan 12 di antaranya mengalami kerusakan berat. Sebanyak 16 jembatan putus, termasuk dua jembatan vital penghubung Dusun Silegok dan Sipendil di Desa Gunungsari.
Longsor dan Penanganan Darurat Berkelanjutan
Selain banjir bandang, tanah longsor juga terjadi di Kabupaten Pemalang pada Minggu, 25 Januari 2026. Longsor di Dukuh Siranti, Desa Bongas, Kecamatan Watukumpul, menyebabkan dua warga, Hamim (60) dan Aksinudin (40), dilaporkan hilang dan masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan.
Peristiwa longsor tersebut menimbun sekitar satu hektare lahan sawah serta ternak kambing milik warga. Kerugian material diperkirakan cukup besar dan berdampak pada mata pencaharian masyarakat setempat. Proses evakuasi dan pencarian korban terkendala kondisi medan yang labil dan cuaca yang belum sepenuhnya membaik.
Secara keseluruhan, BPBD Jawa Tengah mencatat 297 kejadian bencana sepanjang Januari 2026, dengan 11 daerah masih terdampak hingga 25 Januari 2026.
Jangan lewatkan kabar terbaru dan paling ramai dibicarakan tentang penebangan hutan eksklusif di NASIB RAKYAT.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari regional.kompas.com
- Gambar Kedua dari regional.kompas.com