Pergerakan tanah di Kalongan, Ungaran Timur, terus meluas hingga 1,5 kilometer, menimbulkan kekhawatiran warga setempat.
Desa Kalongan, Ungaran Timur, Semarang menghadapi pergerakan tanah yang terus meluas. Longsor sejak 2022 semakin parah, area terdampak 1,5 kilometer. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran warga dan membutuhkan penanganan cepat pihak berwenang. BPBD Kabupaten Semarang menjelaskan penyebab, dampak, dan upaya antisipasi bencana ini.
Temukan rangkuman informasi menarik tentang rakyat lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di NASIB RAKYAT.
Anatomi Longsor, Peran Air Dan Tanah Lempung
Kepala BPBD Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan Tribiantoro, menjelaskan bahwa penyebab utama longsor di Kalongan adalah aliran air yang membuat tanah menjadi sangat jenuh. Air ini, yang menurut tim teknis seolah-olah berfungsi seperti “mata air,” terus membasahi area. Kondisi tanah yang jenuh air menjadi sangat tidak stabil, memicu pergerakan tanah dan longsor.
Lebih lanjut, Alex menyoroti karakteristik geologis tanah di lokasi. Wilayah tersebut didominasi oleh batu lempung formasi Kerek, yang memiliki sifat “mudah lumer” ketika terpapar air. Sifat unik dari batuan ini adalah faktor kunci yang memperparah kemunculan dan perluasan longsor di Desa Kalongan, menjadikannya rentan terhadap perubahan kondisi kelembaban.
Interaksi antara kejenuhan tanah akibat infiltrasi air dan sifat lumer batu lempung menciptakan kombinasi yang sangat berbahaya. Kondisi ini membuat struktur tanah melemah drastis, sehingga tidak mampu menahan beban di atasnya dan memicu longsor. Pemahaman tentang anatomi ini penting untuk merumuskan langkah-langkah mitigasi yang efektif.
Perluasan Area Terdampak, Dari 2022 Hingga Kini
Warga setempat melaporkan bahwa pergerakan tanah di Kalongan sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2010. Namun, longsor yang paling parah dan berdampak luas terjadi pada tahun 2022. Kejadian ini kala itu memutus jalan alternatif vital yang menghubungkan Semarang dan Demak, menunjukkan skala kerusakannya yang signifikan.
Sejak insiden parah di tahun 2022, longsor kerap berulang dan area terdampak terus meluas. Alexander Tribiantoro mencatat bahwa saat ini terjadi peningkatan longsor lebih dari 30 persen dari posisi awalnya. Lebar longsoran telah mencapai sekitar 250 meter, sementara jangkauan area terdampak meluas hingga 1,5 kilometer, mengancam lebih banyak wilayah.
“Jangkauan longsornya itu sampai 1,5 kilo, kemudian lebar longsoran itu kurang lebih sekitar 250-an meter, kemudian tinggi longsoran itu 60 meter,” jelas Alex. Data ini menunjukkan bahwa longsor di Kalongan telah mencapai dimensi yang sangat besar, melampaui kondisi awal dan memerlukan perhatian serius dari semua pihak.
Baca Juga: Heboh Trenggalek! SD Tertimpa Longsor, 2 Kelas Terpaksa Dikosongkan
Ancaman ke Permukiman Dan Strategi Mitigasi BPBD
Alex mengonfirmasi bahwa ada potensi nyata longsor tersebut dapat merembet hingga ke wilayah permukiman. Khususnya, permukiman warga yang berlokasi di sisi selatan area terdampak menjadi sangat rentan. Potensi ini memicu kekhawatiran serius terhadap keselamatan dan aset masyarakat, membutuhkan langkah antisipasi segera.
Sebagai upaya mitigasi risiko dan perlindungan warga, BPBD telah mengimplementasikan sistem peringatan dini (EWS) di lokasi. Pemasangan EWS ini bertujuan untuk memberikan informasi awal jika terjadi pergerakan tanah, memungkinkan warga memiliki waktu yang cukup untuk melakukan evakuasi.
Selain EWS, BPBD juga telah melakukan pendataan terhadap warga yang berpotensi terdampak. Saat ini, sebanyak 22 Kepala Keluarga (KK) di RT 4 RW 3, yang berada di sisi selatan, telah teridentifikasi sebagai warga terdampak. Upaya ini menunjukkan keseriusan BPBD dalam melindungi masyarakat dari ancaman longsor.
Curah Hujan Ekstrem Dan Kesaksian Warga Setempat
Sunardi (46), seorang warga RT 4 RW 3, menceritakan bahwa meskipun pergerakan tanah sudah ada sejak 2010, longsor besar pertamanya terjadi empat tahun lalu. Ia mengingat bahwa longsor parah pada Februari 2022 menyebabkan jalan alternatif terputus.
Ia juga menambahkan bahwa beberapa hari setelah longsor utama, terjadi longsor susulan yang memutus akses jalan dekat RT 6, menambah kompleksitas masalah. Kejadian terbaru, longsor besar kembali melanda pada 16 Februari. Sunardi menduga kejadian ini akibat curah hujan yang sangat deras pada 15 Februari, baik siang maupun malam.
“Kejadian ini kemarin 16 Februari. Soalnya kan hujan deras siang malam di tanggal 15, paginya sekitar jam 05.00-06.30 WIB kejadian,” ungkap Sunardi. Kesaksian ini menyoroti peran signifikan dari curah hujan ekstrem sebagai pemicu langsung longsor.
Dapatkan berita viral, trending, tentang rakyat paling menarik lainnya, eksklusif hanya di seputaran NASIB RAKYAT sumber informasi terkini yang selalu terupdate.
- Gambar Utama dari detik.com
- Gambar Kedua dari regional.kompas.com