Banjir bandang melanda Desa Banjar, Buleleng, menghancurkan tiga ruang kelas SDN 5 Banjar dan merusak peralatan belajar.
Meski begitu, pembelajaran tetap berlangsung dengan skema daring dan luring untuk menjaga proses belajar anak-anak tetap berjalan. Kepala Disdikpora Buleleng, Ida Bagus Gde Surya Bharata, menjelaskan upaya pembersihan, pemanfaatan ruang kelas atas, dan rencana jangka panjang.
Simak informasi terbaru dan terviral tentang bencana alam yang terjadi yang akan kita bahas hanya ada di NASIB RAKYAT.
Sekolah Terdampak Banjir Bandang di Desa Banjar
Banjir bandang yang melanda Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali, membawa dampak signifikan bagi dunia pendidikan setempat. SD Negeri 5 Banjar menjadi salah satu sekolah yang terdampak parah, dengan tiga ruang kelas di lantai bawah mengalami kerusakan akibat terendam lumpur dan air banjir.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng, Ida Bagus Gde Surya Bharata, menyampaikan bahwa pihaknya segera menyesuaikan skema pembelajaran agar anak-anak tetap bisa belajar meski kondisi sekolah belum sepenuhnya pulih. “Hari ini, siswa kelas 4, 5, dan 6 mulai belajar secara luring sesuai arahan kepala sekolah.
Selain itu, tiga ruang kelas di lantai bawah masih dalam proses pembersihan. Lumpur sisa banjir terlihat menumpuk di sejumlah titik, sehingga pihak sekolah harus segera menanganinya agar ruangan kembali aman dan nyaman digunakan. Pihak Disdikpora menekankan pentingnya penanganan cepat agar gangguan terhadap proses belajar seminimal mungkin.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026! Nonton Semua Pertandingan Tanpa Batas, lewat LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal. Ayo Download Sekarang!
Simulasi TKA Berjalan Lancar Meski Terdampak Banjir
Meski terdampak banjir, SD Negeri 5 Banjar tetap melaksanakan kegiatan akademik penting. Surya Bharata menjelaskan, siswa kelas 6 pada hari yang sama berhasil mengikuti simulasi Tes Kompetensi Akademik (TKA) dengan lancar. Tiga ruang kelas di lantai atas dimanfaatkan agar kegiatan belajar tetap berlangsung dengan aman dan nyaman bagi siswa.
Simulasi ini menjadi bukti bahwa meskipun kondisi sekolah terganggu, pengelolaan yang tepat dan penyesuaian ruang kelas memungkinkan pendidikan tetap berjalan. “Kami berupaya agar siswa tidak kehilangan momen belajar penting, terutama untuk kelas 6 yang sebentar lagi menghadapi ujian formal,” kata Surya.
Pihak sekolah juga menekankan koordinasi guru dan orang tua untuk mendukung proses belajar daring bagi kelas 1 hingga 3. Dengan pendekatan hybrid ini, semua siswa tetap mendapatkan pembelajaran sesuai kurikulum, meski sebagian ruang kelas tidak dapat digunakan.
Baca Juga: Geger! Bantuan Rp3 Juta untuk Korban Longsor Sukabumi, Warga Protes!
Dampak Banjir Meluas ke Sekolah Lain
Tidak hanya SD Negeri 5 Banjar, sekolah lain di sekitar lokasi juga terdampak banjir. Salah satunya adalah SMP Negeri 3 Seririt yang mengalami kerusakan pada tembok penyangga di bagian bawah bangunan. Kerusakan ini memerlukan asesmen lebih lanjut agar pembelajaran dapat disusun ulang tanpa mengganggu siswa.
Disdikpora Buleleng mempertimbangkan beberapa opsi, termasuk pembelajaran shift atau pemanfaatan fasilitas sekolah terdekat secara bergantian. Beberapa sekolah di sekitar, seperti SD Negeri 7 Banjar dan SD Negeri 1 Banjar, berada cukup dekat dan memungkinkan adanya kolaborasi sementara hingga kondisi normal kembali.
Kerusakan di SD Negeri 5 Banjar juga melibatkan koleksi buku perpustakaan yang sebagian besar terendam air. Dengan total 67 siswa yang belajar di sekolah ini, pihak Disdikpora tengah mengidentifikasi kebutuhan dan kemungkinan pengadaan buku baru, baik melalui dana BOS maupun dukungan sekolah terdekat.
Upaya Pemulihan dan Solusi Jangka Panjang
Surya Bharata menekankan pentingnya solusi jangka panjang agar peristiwa serupa tidak terus mengganggu proses belajar. Pihaknya meninjau sejarah banjir di sekolah tersebut dan merencanakan berbagai langkah mitigasi, termasuk kemungkinan penataan ulang bangunan dan pemanfaatan fasilitas sekolah lain sementara waktu.
Selain itu, pengelolaan fasilitas belajar bersama masih dalam tahap kajian. Tujuannya adalah menjaga kontinuitas pendidikan anak-anak sekaligus memastikan keselamatan dan kenyamanan selama proses belajar. Pendekatan ini menjadi strategi adaptif menghadapi risiko bencana alam yang mungkin terjadi lagi di masa depan.
Sumber Gambar:
- Gambar pertama dari detik.com
- Gambar kedua dari balipost.com