Banjir besar melanda Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, pada medio Mei 2026 dan menyebabkan situasi darurat bagi ribuan warga.
Hujan deras disertai luapan kali dan genangan air yang meluas membuat sejumlah permukiman terendam hingga beberapa hari. Dua orang meninggal dunia, sementara 3.517 warga harus berjuang menghadapi kondisi rumah dan lingkungan yang tergenang air. Aparat pemerintah dan relawan terus melakukan evakuasi dan penanganan di lapangan.
Temukan rangkuman informasi menarik tentang rakyat lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di NASIB RAKYAT.
Korban Jiwa dan Status Bencana
Banjir yang melanda Kendari menyebabkan dua orang meninggal dunia, satu di antaranya adalah seorang bocah berusia lima tahun. Korban tewas terbawa arus banjir saat sungai setempat meluap dan menerjang permukiman di sekitar bantaran kali. Kondisi ini menegaskan bahwa banjir di Kota Kendari tidak hanya merusak rumah, tetapi juga mengancam keselamatan nyawa warganya.
Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) serta Tim SAR telah melakukan evakuasi terhadap warga terdampak di sejumlah kelurahan. Sejumlah warga berhasil diselamatkan dari kepungan banjir, termasuk kelompok perempuan dan anak‑anak yang terisolasi di rumah mereka. Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di lokasi‑lokasi yang masih terendam.
Pemerintah Kota Kendari melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menetapkan status bencana banjir dengan penanganan darurat. Kepala BPBD, Cornelius Padang, menyatakan bahwa data korban jiwa dan terdampak masih bersifat sementara dan terus diperbarui. Upaya pendataan di lapangan dilakukan bersamaan dengan distribusi bantuan kepada warga.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Ribuan Jiwa Terdampak dan Lokasi Parah
Data terbaru BPBD Kota Kendari mencatat sekitar 3.517 warga terdampak akibat banjir yang merendam 797 rumah. Korban terdampak tersebar di enam hingga tujuh kecamatan dengan puluhan titik permukiman yang terendam. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak banjir meluas di beberapa wilayah kota, bukan hanya di satu kelurahan.
Kecamatan seperti Baruga, Kadia, Abeli, dan Kendari Barat menjadi salah satu titik yang paling parah terdampak. Di Kelurahan Lepo‑Lepo, Kecamatan Baruga, genangan air masih terlihat di beberapa RT, sehingga ratusan kepala keluarga harus mengungsi. Warga di sekitar Jalan Mangkerey dan lorong‑lorong padat pun tak luput dari banjir yang merendam lantai rumah.
Selain rumah, sebagian lahan pertanian sawah dan ruas jalan juga terdampak banjir dan longsor. Kerusakan infrastruktur membuat akses jalan sempat terganggu, sehingga pengiriman logistik dan evakuasi menjadi lebih menantang. Kondisi ini memperburuk kesulitan warga yang baru saja kehilangan tempat tinggal dan perlengkapan rumah.
Baca Juga: Ambruk Mendadak! Rumah 3 Lantai Pensiunan PNS di Sukabumi Tutupi Akses Jalan
Evakuasi, Pos Pengungsian, dan Bantuan
Sejumlah warga yang rumahnya terendam tinggi memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman, seperti masjid dan rumah saudara. Tim relawan dan BPBD mendirikan pos pengungsian sementara di beberapa kelurahan untuk menampung korban banjir. Di sana, warga mendapatkan tempat beristirahat, makanan, dan layanan kesehatan dasar.
BPBD dan lintas instansi membagikan bantuan berupa makanan siap saji, air bersih, dan kebutuhan pokok lainnya. Pemerintah juga berkoordinasi dengan palang merah dan organisasi sosial untuk memastikan distribusi bantuan merata. Warga di pos pengungsian dapat mengakses layanan kesehatan dan pendampingan psikologis bagi anak‑anak yang terkena dampak trauma.
Operasi evakuasi terus berlangsung di area yang masih tergenang air, dengan bantuan perahu dan kendaraan khusus. Tim gabungan juga melakukan pemantauan kondisi tanggul dan saluran air untuk mencegah luapan lanjutan. Upaya penguatan sarana tanggap darurat menjadi prioritas agar tidak terjadi korban tambahan jika hujan kembali turun.
Evaluasi Penyebab dan Upaya Jangka Panjang
Banjir di Kendari diduga dipicu oleh curah hujan tinggi yang berlangsung beberapa hari, ditambah luapan Kali Wanggu dan saluran drainase yang tidak optimal. Beberapa permukiman yang berada di dataran rendah dan bantaran sungai menjadi area paling rentan tergenang. Kondisi ini menunjukkan bahwa aspek tata ruang dan manajemen sungai perlu dievaluasi lebih serius.
Pemerintah daerah dan pusat mulai mendorong penataan kawasan bantaran sungai dan normalisasi saluran air. Selain itu, disosialisasikan edukasi mitigasi bencana kepada warga, termasuk cara menyelamatkan diri saat banjir dan pentingnya meninggalkan area rawan. Keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan dan mencegah pembuangan sampah sembarangan menjadi bagian dari upaya jangka panjang.
Di tengah kegawatan banjir, solidaritas warga Kendari dan relawan menjadi lampu harapan di tengah krisis. Bantuan dari berbagai komunitas dan zakat masyarakat turut membantu memenuhi kebutuhan dasar pengungsi. Langkah ke depan adalah memperkuat sistem peringatan dini dan membangun infrastruktur yang lebih tangguh agar Kota Kendari lebih siap menghadapi bencana serupa di masa depan.
Dapatkan berita viral, trending, tentang rakyat paling menarik lainnya, eksklusif hanya di seputaran NASIB RAKYAT sumber informasi terkini yang selalu terupdate.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari daerah.sindonews.com
- Gambar Kedua dari kendari24.com