Kisah haru banjir bandang Aceh, seorang ibu berjuang melindungi bayi 17 bulan di tengah derasnya air demi keselamatan.
Derasnya banjir bandang yang melanda Aceh menyisakan kepanikan dan ketakutan. Di tengah situasi mencekam itu, sebuah kisah perjuangan menyentuh hati muncul dari seorang ibu yang mempertaruhkan keselamatannya demi melindungi buah hatinya yang baru berusia 17 bulan.
Dengan air yang terus meninggi dan arus yang kuat, naluri keibuan menjadi satu-satunya kekuatan untuk bertahan. Kisah ini pun mengundang haru sekaligus menjadi potret nyata ketangguhan seorang ibu di tengah bencana, Ikuti terus informasi terbaru yang bikin wawasanmu makin luas, eksklusif di NASIB RAKYAT.
Ayo bergabung di chanel whatsapp Nasibrakyat, dapatkan informasi terkini lebih cepat
Detik-detik Banjir Bandang Menerjang Permukiman
Selasa malam (25/11), sekitar pukul 21.00 WIB menjadi detik-detik yang tak akan pernah dilupakan Lilis Susi Liana. Seusai menunaikan salat Isya di rumahnya, ia menidurkan bayinya yang masih berusia 17 bulan.
Tak lama berselang, adiknya membangunkannya dengan panik. Air banjir tiba-tiba naik begitu cepat, nyaris tanpa memberi waktu untuk menyelamatkan barang-barang berharga.
Banjir bandang terjadi secara tiba-tiba setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Air bercampur lumpur dan material kayu menerjang permukiman warga.
Banyak warga tidak sempat menyelamatkan barang berharga. Situasi berubah panik dalam hitungan menit.
Perjuangan Ibu Selamatkan Bayi di Tengah Arus Deras
Air bah dari Sungai Meureudu itu dalam waktu singkat merendam rumah Lilis di Desa Beurawang, Kecamatan Meureudu, hingga ketinggian lebih dari empat meter. Desa tersebut menjadi salah satu wilayah terparah terdampak banjir bandang.
Dalam kondisi panik, Lilis hanya memikirkan keselamatan anak-anaknya, Ia harus menyelamatkan empat orang anak seorang diri. Saat kejadian, suaminya tidak berada di rumah karena sedang bekerja di Lueng Putu dan tidak mengetahui situasi keluarganya yang terjebak banjir.
Lilis bersama anak-anaknya kemudian mengungsi ke sebuah rumah panggung tradisional Aceh yang letaknya lebih tinggi. Namun tempat itu pun tidak sepenuhnya aman, Air masih masuk hingga setinggi mata kaki.
Lebih memilukan lagi, di rumah tersebut tidak ada persediaan makanan. Dengan tenaga seadanya, ia bertahan demi keselamatan anaknya, Perjuangan tersebut menjadi simbol kasih ibu di tengah bencana.
Baca juga: Prabowo Tegaskan Indonesia Mampu Tangani Bantuan dari Negara Lain
Evakuasi Dramatis di Tengah Kepanikan Warga
Air sempat surut, namun kembali meninggi. Warga berupaya meminta pertolongan tim SAR untuk evakuasi, Namun derasnya arus membuat tim penyelamat tidak berani masuk ke lokasi tempat Lilis dan beberapa warga lain terjebak.
Kondisi panik menyulitkan proses penyelamatan. Namun ibu dan bayi akhirnya berhasil dievakuasi dengan selamat dan dalam situasi bencana seperti ini, Lilis menilai balita dengan kondisi gizi buruk seharusnya mendapat prioritas penanganan, mulai dari pemeriksaan kesehatan rutin, pemberian makanan tambahan, hingga pendampingan medis.
Ia berharap pemerintah daerah, dinas kesehatan, serta lembaga kemanusiaan dapat memberi perhatian lebih terhadap anak-anak rentan di pengungsian, agar mereka tidak menjadi korban lanjutan dari bencana yang telah merenggut rasa aman dan kesehatan mereka
Kisah Haru yang Menyentuh Hati Publik
Kisah perjuangan ibu dan bayinya menyebar luas di media sosial. Banyak warganet tersentuh dan menyampaikan doa serta dukungan.
Cerita ini menjadi pengingat kuatnya kasih seorang ibu. Peristiwa tersebut juga mengundang empati terhadap korban bencana Aceh.
Keteguhan Seorang Ibu di Tengah Bencana
Keteguhan seorang ibu terlihat saat ia tetap bertahan melindungi bayinya meski berada dalam situasi berbahaya. Kisah ini mencerminkan kekuatan cinta ibu di tengah bencana.
Simak dan ikutin terus informasi terbaru dan terviral yang akan menamba wawasan anda hanya ada di NASIB RAKYAT
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari harianrakyataceh.com
- Gambar Kedua dari antaranews.com