Kementerian Agama menyiapkan Rp85,84 miliar untuk memulihkan 490 madrasah terdampak bencana di Sumatra agar kegiatan belajar siswa bisa kembali berjalan.
Anggaran tersebut masuk dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi tahun 2026. Kemenag menyasar madrasah yang mengalami kerusakan akibat bencana dan membutuhkan perbaikan agar kembali berfungsi sebagai tempat belajar.
Dari 490 madrasah penerima bantuan, sebanyak 167 merupakan madrasah negeri. Sementara itu, 323 lainnya berasal dari madrasah swasta. Program ini mencakup berbagai kebutuhan pemulihan sesuai kondisi masing-masing madrasah. Simak ulasan lengkapnya dari NASIB RAKYAT.
Kemenag Siapkan Rp85,84 Miliar untuk 490 Madrasah
Anggaran Rp85,84 miliar menjadi bagian dari langkah Kemenag memulihkan fasilitas pendidikan di wilayah Sumatra. Bencana yang terjadi di sejumlah daerah membuat beberapa bangunan madrasah mengalami kerusakan dan tidak bisa digunakan seperti biasa.
Pemerintah kemudian mengarahkan anggaran untuk rehabilitasi dan pembangunan kembali fasilitas yang terdampak. Dengan perbaikan tersebut, siswa diharapkan dapat kembali mengikuti kegiatan belajar dengan kondisi yang lebih aman.
Kemenag juga melihat kebutuhan setiap madrasah secara berbeda. Karena itu, pemulihan tidak hanya berfokus pada satu jenis bangunan, tetapi menyesuaikan fasilitas yang mengalami kerusakan.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
MIN 5 Pidie Jaya Jadi Salah Satu Prioritas
Salah satu madrasah yang masuk dalam program tersebut adalah Madrasah Ibtidaiyah Negeri atau MIN 5 Pidie Jaya di Seunong. Madrasah ini mengalami kerusakan berat akibat banjir.
Bangunan madrasah bahkan hanyut akibat bencana sehingga tidak lagi bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Kondisi tersebut membuat pembangunan kembali menjadi kebutuhan utama bagi siswa dan tenaga pendidik.
Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Kemenag, M. Arskal Salim GP, mengatakan pembangunan kembali MIN 5 Pidie Jaya merupakan bagian dari upaya memulihkan layanan pendidikan bagi siswa yang terdampak bencana.
Baca Juga:Â Gunung Inerie Ngada NTT Terbakar, 30 Hektare Lahan Hangus Dilalap Api
Pembangunan MIN 5 Pidie Jaya Capai 18 Persen
Dalam laporan tertulis yang diterima pada Kamis (1/10/2026), pembangunan kembali MIN 5 Pidie Jaya telah mencapai progres sekitar 18 persen.
Arskal berharap proses pembangunan bisa berjalan sesuai rencana. Kemenag menargetkan madrasah tersebut dapat kembali beroperasi dalam waktu sekitar tiga bulan ke depan.
Bangunan baru akan mencakup ruang kantor, ruang guru, serta sejumlah fasilitas pendukung. Gedung tersebut dirancang dengan dua lantai sehingga masih memungkinkan adanya pengembangan fasilitas pada tahap berikutnya.
Kebutuhan Fasilitas Akan Dipenuhi Bertahap
Kemenag telah mengusulkan sejumlah kebutuhan fasilitas melalui anggaran yang tersedia. Sementara kebutuhan lainnya akan dikoordinasikan bersama Kementerian Pekerjaan Umum atau Kementerian PU.
Koordinasi ini bertujuan agar pembangunan berjalan secara terpadu. Pemerintah juga ingin menghindari tumpang tindih dalam pembiayaan maupun perencanaan pembangunan madrasah.
Arskal menjelaskan bahwa pemenuhan fasilitas akan berlangsung secara bertahap. Menurutnya, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah memastikan bangunan kembali tersedia sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman.
Targetnya Siswa Bisa Kembali Belajar Awal 2027
Kemenag berharap pembangunan MIN 5 Pidie Jaya selesai tepat waktu sehingga siswa dapat kembali belajar di madrasah tersebut pada Januari 2027.
Selain memulihkan fasilitas dasar, Kemenag membuka peluang untuk mengembangkan MIN 5 Pidie Jaya menjadi madrasah unggulan. Namun, rencana tersebut baru akan berjalan setelah kebutuhan utama akibat bencana terpenuhi.
Pemulihan MIN 5 Pidie Jaya menjadi bagian dari program yang lebih luas untuk mengembalikan fungsi ratusan madrasah terdampak bencana di Sumatra. Kemenag menargetkan proses perbaikan berlangsung bertahap sesuai kondisi setiap sekolah.
Dengan kembali berfungsinya fasilitas pendidikan, siswa di wilayah terdampak diharapkan tidak perlu terlalu lama kehilangan ruang belajar. Pemulihan madrasah juga menjadi langkah penting agar kegiatan pendidikan dapat kembali berjalan secara normal.