Pembahasan mengenai bencana banjir bandang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, kembali menyisakan duka mendalam.
Musibah alam yang datang secara tiba-tiba ini tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga merenggut nyawa warga. Hingga saat ini, jumlah korban meninggal dunia terus bertambah, sementara proses pencarian korban hilang masih dilakukan oleh tim gabungan di lapangan.
Peristiwa ini menjadi pengingat betapa besarnya dampak bencana alam bagi kehidupan masyarakat, terutama di wilayah kepulauan yang rawan cuaca ekstrem. Berikut ini NASIB RAKYAT, akan memberikan penjelasannya secara lengkap dan detail, ayo simak!
Korban Jiwa Terus Bertambah, Pencarian Masih Berlangsung
Jumlah korban meninggal dunia akibat banjir bandang yang melanda Kabupaten Kepulauan Sitaro kini bertambah menjadi 16 orang. Informasi ini disampaikan langsung oleh Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari.
Ia menyebutkan bahwa hingga Selasa siang, masih ada warga yang belum ditemukan.
“Selain korban meninggal, hingga Selasa (6/1) pukul 14.00 WIB, tiga orang masih dinyatakan hilang dan saat ini masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan,” ujar Abdul Muhari.
Pencarian dilakukan dengan menyisir area terdampak banjir bandang, terutama di sekitar aliran sungai, pemukiman warga, dan lokasi yang diduga menjadi titik terakhir korban terlihat. Kondisi medan yang sulit serta cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan.
Ratusan Warga Mengungsi dan Puluhan Mengalami Luka
Selain korban jiwa, banjir bandang ini juga menyebabkan ratusan warga harus meninggalkan rumah mereka demi keselamatan. BNPB mencatat bahwa jumlah pengungsi sementara mencapai sekitar 682 jiwa, dan angka tersebut masih bisa berubah seiring proses pendataan.
“Ratusan warga terdampak terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman karena rumah mereka rusak atau berada di zona rawan,” jelas Abdul Muhari.
Tak hanya itu, 22 orang dilaporkan mengalami luka-luka dan telah mendapatkan perawatan di puskesmas setempat. Sementara itu, dua korban lainnya harus dirujuk ke rumah sakit di Manado untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan karena kondisinya cukup serius.
Dari total korban meninggal dunia, lima orang telah berhasil diidentifikasi, sementara sisanya masih dalam proses identifikasi oleh pihak berwenang.
Empat Kecamatan Terdampak Parah Banjir Bandang
Banjir bandang ini berdampak luas dan melanda empat kecamatan di Kabupaten Kepulauan Sitaro. Wilayah yang terdampak meliputi Kecamatan Siau Timur, Siau Tengah, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan.
“Sebaran wilayah terdampak berada di dua kelurahan dan enam desa yang sebagian besar berada di wilayah dataran rendah dan dekat aliran sungai,” ungkap Abdul Muhari.
Warga setempat mengaku banjir datang dengan sangat cepat, membawa material lumpur, kayu, dan bebatuan besar. Banyak warga tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga karena fokus menyelamatkan diri dan anggota keluarga.
Ratusan Rumah Rusak dan Infrastruktur Terputus
Dari sisi kerusakan, dampak banjir bandang ini tergolong cukup parah. BNPB mencatat adanya tujuh unit rumah hanyut terbawa arus, 29 unit rumah mengalami rusak berat, dan 112 unit rumah rusak ringan.
“Sejumlah akses jalan dilaporkan terputus, beberapa bangunan kantor dan infrastruktur umum juga mengalami kerusakan,” kata Abdul Muhari.
Kondisi ini membuat mobilitas warga dan distribusi bantuan sempat terhambat. Petugas masih terus melakukan pendataan kerugian materiil secara menyeluruh untuk memastikan kebutuhan pemulihan pascabencana dapat direncanakan dengan baik.
Baca Juga: Ketika Alam Bersuara, Akankah Kita Mendengar Jeritan Aceh Tengah?
Upaya Penanganan Darurat dan Penyaluran Bantuan
Dalam penanganan darurat, BPBD Kabupaten Kepulauan Sitaro langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak. Tim gabungan yang terlibat antara lain BPBD Provinsi Sulawesi Utara, Basarnas, TNI, Polri, aparat kecamatan dan kelurahan, serta para relawan.
“Kami fokus pada pencarian korban hilang, evakuasi warga terdampak, serta pendataan kerusakan di lokasi bencana,” jelas Abdul Muhari.
Selain itu, bantuan darurat berupa kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, selimut, dan perlengkapan logistik lainnya telah mulai disalurkan kepada para pengungsi. Pemerintah daerah bersama BNPB memastikan bahwa kebutuhan dasar warga terdampak tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat.
Harapan dan Imbauan untuk Warga
BNPB mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah rawan bencana, untuk selalu meningkatkan kewaspadaan, terutama saat curah hujan tinggi. Warga juga diminta untuk segera mengungsi jika melihat tanda-tanda bahaya demi menghindari jatuhnya korban jiwa.
“Keselamatan warga adalah yang utama. Kami mengajak masyarakat untuk mengikuti arahan petugas dan tidak memaksakan diri berada di area berbahaya,” tutup Abdul Muhari.
Banjir bandang di Sitaro menjadi duka bersama dan pengingat bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana alam sangatlah penting. Dukungan dan doa dari berbagai pihak diharapkan dapat membantu warga terdampak bangkit dan pulih dari musibah ini.
Ikutin terus NASIB RAKYAT, agar kalian tidak ketingalan informasi terbaru dan menarik lainnya yang kami berikan.
- Gambar Utama dari okezone.news
- Gambar Kedua dari Tempo.co