Doa dan harapan mengiringi korban longsor Cisarua, menyelimuti warga yang terdampak kehilangan rumah dan keluarga.
Longsor di Cisarua meninggalkan duka mendalam bagi warga. Di tengah puing NASIB RAKYAT dan kerusakan, doa dan harapan tetap menyertai mereka yang terdampak.
Tragedi Longsor Cisarua Dan Luka Yang Tersisa
Tanah yang sebelumnya tak bisa dipijak kini terlihat mengering. Debu beterbangan saat angin berhembus dari arah Gunung Burangrang, membumbung ke udara, membawa aroma tanah basah yang masih tersisa di sela reruntuhan. Permukaan tanah yang tandus dan berantakan menyimpan duka mendalam bagi warga terdampak, yang melihat rumah dan kenangan hidup mereka lenyap seketika.
Longsor yang terjadi pada 24 Januari 2026 merenggut nyawa 80 orang, saat mereka tengah tertidur lelap. Di Kampung Pasir Kuning, Babakan, dan Kampung Pasir Kuda, warga tak mendapat peringatan apa pun. Rumah-rumah yang dulu berdiri kokoh kini rata dengan tanah, meninggalkan reruntuhan yang menjadi saksi bisu tragedi.
Meskipun lahan tampak bersih bagi orang luar, bagi keluarga korban, setiap langkah di lokasi itu membawa kenangan pahit. Sisa material longsor seperti kayu, besi, dan batu-batu besar menjadi pengingat akan kehilangan yang tak tergantikan. Luka batin dan trauma masih menghantui setiap sudut desa yang kini sepi dari tawa anak-anak.
Operasi SAR Berakhir, Harapan Tetap Hidup
Alat berat mulai bergerak meninggalkan sektor A1, area pencarian korban longsor di Kampung Pasir Kuda. Basarnas resmi menghentikan operasi pencarian setelah 22 hari bekerja tanpa henti, pada Sabtu (14/2/2026). Meskipun tubuh dan rumah-rumah korban telah diangkat, luka batin bagi warga tetap nyata.
SAR Mission Coordinator, Ade Dian Permana, menyebut ada sekitar 20 korban yang belum ditemukan. Namun batas waktu operasi yang sudah ditentukan memaksa penghentian pencarian formal. Keputusan ini diterima dengan berat hati oleh keluarga, karena harapan untuk menemukan anggota keluarga mereka masih ada.
Keluarga korban berusaha ikhlas, namun tekad untuk tetap menemukan jasad yang tersisa tidak padam. Tubuh anggota keluarga yang hilang masih dicari demi bisa dikebumikan secara layak. Setiap langkah pencarian menjadi pengingat akan tanggung jawab keluarga dan solidaritas sesama warga.
Baca Juga: Pekerja Potong Bambu Tertimbun Longsor di Kintamani
Kekuatan Spiritual Di Tengah Duka
Ai Neni (36), warga yang kehilangan anggota keluarganya, sengaja datang ke lokasi longsor untuk mengaji Yasin. Baginya, doa menjadi alat penghubung antara yang hidup dan yang telah tiada. Ia percaya ikhtiar spiritual ini dapat mempermudah proses pencarian fisik yang telah dilakukan tim SAR.
Setelah mengaji, Ai menaburkan bunga warna-warni dan menyiramkan air dari botol mineral. Setiap gerakan memiliki makna: penghormatan pada orang-orang tercinta dan bukti bahwa mereka tidak pernah dilupakan. Ritual ini menjadi bentuk perlawanan terhadap rasa kehilangan dan trauma yang menghantui warga.
Kegiatan spiritual ini juga memperkuat hubungan batin dengan korban. Keluarga berharap doa yang tulus dapat menemani usaha fisik, membawa ketenangan dan keyakinan bahwa korban yang tersisa akan segera ditemukan. Ini menjadi simbol harapan yang tak pernah padam meski cobaan berat menghadang.
Pencarian Mandiri Oleh Keluarga
Meski operasi SAR resmi dihentikan pada 14/2/2026, keluarga korban tidak berhenti berusaha. Mereka berencana melanjutkan pencarian secara mandiri, membawa peralatan seadanya, dan mengandalkan ingatan mereka tentang lokasi rumah sebelum rata dengan tanah. Setiap sudut desa diingat dengan teliti untuk memastikan tidak ada titik yang terlewat.
Ai Neni menargetkan titik-titik tertentu tempat rumah keluarganya berdiri. Dari 14 anggota keluarga yang menjadi korban, 11 telah ditemukan, dan 3 lainnya masih dicari. Proses ini dilakukan dengan kesabaran, ketelitian, dan rasa hormat yang mendalam terhadap mereka yang hilang.
Pencarian mandiri menjadi wujud tanggung jawab keluarga untuk memastikan semua anggota dapat ditemukan. Kesadaran ini juga memperkuat solidaritas antarwarga. Mereka bekerja sama saling memberi informasi lokasi, berbagi peralatan, dan mendukung satu sama lain dalam kondisi yang penuh duka.
Doa, Syukur Dan Harapan Yang Tak Pernah Padam
Ai Neni mengucapkan terima kasih kepada tim SAR gabungan yang telah menemukan 11 anggota keluarganya. Upaya tim penuh risiko dan tidak mudah, sehingga penghargaan ini menjadi bukti apresiasi keluarga terhadap kerja keras mereka.
Meski begitu, keluarga korban tetap menyalakan lilin harapan. Doa yang tulus menjadi penguat hati agar anggota keluarga yang tersisa segera ditemukan. Kekuatan spiritual dan doa beriringan dengan usaha fisik menjadi penopang di tengah duka.
Tragedi longsor Cisarua mengingatkan kita akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, solidaritas antarwarga, dan kekuatan spiritual. Doa dan harapan tetap menjadi penopang mereka yang tersisa di lokasi bencana, memastikan bahwa korban tidak pernah dilupakan dan semangat untuk menemukan mereka tak akan padam.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari surau.co