Seorang pekerja potong bambu dilaporkan tertimbun longsor saat beraktivitas di kawasan perbukitan Kintamani.
Peristiwa tanah longsor kembali terjadi di wilayah perbukitan Bali. Seorang pekerja potong bambu dilaporkan tertimbun material longsor saat sedang beraktivitas di kawasan Kintamani.
Insiden ini menambah daftar kejadian bencana alam yang kerap melanda daerah dengan kontur tanah labil, terutama saat curah hujan meningkat.
Kejadian tersebut berlangsung ketika korban bersama beberapa rekannya tengah menebang bambu di lereng perbukitan. Aktivitas itu merupakan pekerjaan rutin untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan serta kerajinan.
Namun tanpa diduga, tanah di bagian atas lereng tiba-tiba bergerak lalu runtuh, menyeret material lumpur, batu, serta potongan bambu ke bawah.
Temukan rangkuman informasi menarik tentang rakyat lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di NASIB RAKYAT.
Kronologi Kejadian
Menurut keterangan saksi di lokasi, sebelum longsor terjadi hujan turun cukup deras sejak pagi. Kondisi tanah menjadi lembek serta tidak stabil. Saat para pekerja fokus memotong bambu, terdengar suara gemuruh dari atas tebing. Dalam hitungan detik, tanah longsor meluncur deras menuju area kerja.
Beberapa pekerja berhasil menyelamatkan diri dengan berlari menjauh. Namun satu orang tidak sempat menghindar lalu tertimbun material tanah. Rekan-rekannya segera berusaha melakukan pertolongan secara manual dengan alat seadanya sambil meminta bantuan warga sekitar.
Laporan kejadian kemudian diteruskan ke aparat desa serta petugas penanggulangan bencana. Tim gabungan yang terdiri dari unsur kepolisian, TNI, serta relawan tiba di lokasi untuk melakukan proses pencarian serta evakuasi.
Proses Evakuasi Korban
Proses evakuasi berlangsung cukup menantang. Kondisi tanah yang masih labil membuat tim harus berhati-hati agar tidak memicu longsor susulan. Petugas menggunakan peralatan manual seperti cangkul serta sekop untuk mengangkat material tanah secara bertahap.
Beberapa jam kemudian, korban berhasil ditemukan dalam kondisi tertimbun cukup dalam. Petugas medis yang bersiaga segera melakukan pemeriksaan.
Peristiwa ini memicu keprihatinan warga setempat, mengingat sebagian besar masyarakat di kawasan tersebut bergantung pada aktivitas pertanian serta hasil hutan sebagai mata pencaharian.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi bencana, terutama saat intensitas hujan meningkat. Lereng perbukitan di wilayah tersebut memang dikenal rawan longsor jika struktur tanah tidak mampu menahan debit air yang tinggi.
Baca Juga: Banjir Parah Rendam Cirebon, Ribuan Warga Terdampak Dan Infrastruktur Rusak
Faktor Penyebab Longsor
Secara geografis, wilayah Bali memiliki banyak daerah perbukitan dengan kemiringan cukup curam. Curah hujan tinggi dapat mempercepat pergerakan tanah, apalagi jika vegetasi penahan sudah berkurang. Penebangan bambu atau tanaman lain di lereng tanpa pengelolaan yang tepat juga berpotensi memperlemah struktur tanah.
Selain faktor alam, aktivitas manusia sering menjadi pemicu tambahan. Penggalian tanah, pembukaan lahan, serta sistem drainase yang kurang memadai dapat memperbesar risiko longsor. Oleh sebab itu, pengelolaan kawasan lereng membutuhkan perencanaan matang agar keseimbangan alam tetap terjaga.
Pakar kebencanaan menilai bahwa kombinasi hujan deras serta kondisi tanah jenuh air menjadi faktor utama dalam kejadian ini. Air yang meresap ke dalam tanah meningkatkan beban pada lapisan bawah, sehingga lereng tidak mampu lagi menahan tekanan lalu runtuh.
Dampak Bagi Masyarakat Sekitar
Peristiwa ini tidak hanya berdampak pada korban serta keluarganya, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran bagi warga lain yang beraktivitas di area serupa. Banyak penduduk setempat bekerja sebagai petani, pencari bambu, atau buruh harian yang menggantungkan hidup pada sumber daya alam di sekitar perbukitan.
Kejadian longsor menjadi pengingat bahwa keselamatan kerja di wilayah rawan bencana harus menjadi prioritas. Penggunaan alat pelindung, pemantauan kondisi cuaca, serta pemetaan area berisiko tinggi perlu diperhatikan sebelum melakukan aktivitas di lereng curam.
Pemerintah daerah diharapkan dapat meningkatkan sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat. Pelatihan tanggap darurat serta sistem peringatan dini dapat membantu mengurangi risiko korban jiwa di masa mendatang.
Dapatkan info menarik setiap hari yang eksklusif dan terpercaya hanya di NASIB RAKYAT.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com