Longsor di Bungku Utara, Morowali, memutus akses jalan utama dan membuat 2.104 warga dari dua desa terisolir akibat jalur transportasi terhenti.
Longsor terjadi di Desa Uempanapa, Kecamatan Bungku Utara, pada Jumat (24/7/2026) sekitar pukul 02.00 Wita. Material longsoran menutup badan jalan yang menjadi satu-satunya akses menuju Desa Lemowalia dan Desa Salubiro.
Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut menjadi salah satu pemicu terjadinya bencana. Air Sungai Swuya meluap dan mengikis bagian tebing di sekitar jalan hingga membuat tanah kehilangan penyangga dan akhirnya longsor.
Longsor Putus Jalur Vital, Dua Desa Kini Terisolir
Kepala Pelaksana BPBD Sulawesi Tengah Asbudianto menjelaskan bahwa longsor terjadi akibat kombinasi curah hujan tinggi dan kondisi tebing yang mengalami pengikisan. Peristiwa tersebut langsung memutus jalur transportasi warga di Desa Uempanapa.
Jalan tersebut memiliki peran penting bagi masyarakat karena menjadi jalur utama untuk berbagai aktivitas sehari-hari. Mulai dari perjalanan warga, distribusi kebutuhan pokok, hingga akses menuju fasilitas pelayanan publik bergantung pada jalur tersebut.
Akibat tertutup material longsor, kendaraan roda dua maupun roda empat belum dapat melewati lokasi kejadian. Kondisi ini membuat warga di dua desa harus menunggu proses penanganan agar akses kembali terbuka.
Pemerintah daerah bersama tim penanganan bencana terus melakukan pemantauan untuk mencari solusi tercepat agar masyarakat tidak terlalu lama mengalami kesulitan akibat terputusnya akses jalan.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Ribuan Warga Terdampak, Aktivitas Masyarakat Ikut Terganggu
BPBD mencatat sebanyak 627 kepala keluarga atau sekitar 2.104 jiwa terdampak akibat longsor tersebut. Jumlah itu berasal dari dua desa yang berada di ujung jalur terdampak.
Desa Salubiro menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak paling banyak, yakni sekitar 500 kepala keluarga atau 1.700 jiwa. Sementara Desa Lemowalia mencatat 127 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 404 jiwa.
Terputusnya akses jalan membuat masyarakat menghadapi berbagai kendala. Warga kesulitan melakukan perjalanan keluar desa, sementara pengiriman kebutuhan sehari-hari juga berpotensi mengalami hambatan.
Meski menghadapi situasi sulit, BPBD memastikan tidak ada korban jiwa maupun warga yang mengalami luka akibat kejadian tersebut. Tim gabungan langsung bergerak untuk melakukan pengecekan kondisi lapangan dan menentukan langkah penanganan berikutnya.
Baca Juga:Â Heboh! Bansos Pemerintah Akan Disalurkan Lewat Kopdes Merah Putih, Apa Dampaknya untuk Warga?
BPBD Turunkan Tim untuk Percepat Penanganan Darurat
Setelah menerima laporan longsor, BPBD Sulawesi Tengah bersama BPBD Morowali mengirimkan Tim Reaksi Cepat (TRC) dan personel Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) menuju lokasi.
Tim tersebut bertugas melakukan asesmen untuk melihat tingkat kerusakan serta kebutuhan mendesak masyarakat yang terdampak. Pemeriksaan lapangan menjadi langkah awal sebelum pemerintah menentukan tindakan pemulihan.
Selain melakukan pendataan, petugas juga memastikan kondisi warga di dua desa tetap aman selama proses penanganan berlangsung. Pemerintah berupaya membuka kembali akses agar aktivitas masyarakat dapat berjalan normal.
Penanganan longsor membutuhkan kerja sama berbagai pihak karena kondisi medan dan cuaca menjadi tantangan utama di lokasi kejadian.
Jembatan Darurat Jadi Kebutuhan Mendesak Warga
BPBD menyebut pembangunan jembatan darurat menjadi salah satu kebutuhan utama untuk memulihkan akses menuju Desa Lemowalia dan Desa Salubiro.
Selain itu, pemerintah juga membutuhkan material timbunan untuk memperbaiki jalur yang tertutup longsor. Langkah tersebut diharapkan dapat membuka kembali akses kendaraan sehingga masyarakat tidak terus mengalami keterbatasan mobilitas.
Perbaikan jalur transportasi menjadi prioritas karena jalan tersebut menjadi penghubung penting bagi kehidupan warga. Tanpa akses yang memadai, masyarakat akan kesulitan mendapatkan berbagai kebutuhan maupun menjalankan aktivitas ekonomi.
Pemerintah daerah terus berkoordinasi agar proses pemulihan dapat berjalan secepat mungkin dengan tetap memperhatikan kondisi keamanan di lokasi.
Warga Menanti Akses Kembali Normal Setelah Bencana
Bencana longsor di Bungku Utara menjadi pengingat bahwa kondisi alam dapat berubah secara cepat, terutama ketika wilayah mengalami hujan dengan intensitas tinggi.
Masyarakat kini berharap pemerintah segera menyelesaikan penanganan agar jalur utama kembali bisa digunakan. Akses jalan yang pulih akan membantu warga menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa hambatan seperti sebelum bencana terjadi.
Selain pemulihan infrastruktur, pemerintah juga perlu memperkuat upaya pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali mengancam wilayah tersebut. Perbaikan drainase, penguatan tebing, dan pemantauan kawasan rawan longsor menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko bencana di masa mendatang.
Untuk sementara waktu, warga Desa Lemowalia dan Desa Salubiro masih harus bersabar menunggu proses penanganan selesai. Pemerintah memastikan upaya pemulihan terus berjalan agar ribuan warga dapat kembali beraktivitas dengan normal.