
Cuaca ekstrem melanda tiga desa di Kecamatan Aralle, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, pada Jumat (25/9/2026). Hujan deras yang berlangsung beberapa jam kemudian disusul angin kencang hingga merusak puluhan bangunan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mamasa mencatat sebanyak 22 bangunan terdampak. Rinciannya terdiri dari 18 rumah warga dan empat bangunan sekolah yang mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda. Simak ulasan lengkapnya dari NASIB RAKYAT.
Hujan dan Angin Kencang Terjang Tiga Desa
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 15.45 Wita. Desa Uhailanu, Desa Uhaidao, dan Desa Ralleanak menjadi wilayah yang terdampak paling besar akibat hujan deras dan angin kencang.
Kepala BPBD Mamasa Alfredi mengatakan kerusakan rumah tersebar di tiga desa. Di Desa Uhailanu, empat rumah mengalami kerusakan berat dan lima lainnya rusak ringan.
Sementara itu, Desa Uhaidao mencatat dua rumah rusak berat dan empat rumah rusak ringan. Di Desa Ralleanak, dua rumah mengalami kerusakan berat dan satu rumah mengalami kerusakan ringan.
Angin juga merusak empat bangunan sekolah, yakni MTs Uhaidao, SDS Kurasa, SD 03 Ralleanak, dan MI Uhaidao. Sebagian besar kerusakan terjadi pada bagian atap yang tidak mampu menahan kuatnya terpaan angin.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
18 Keluarga Terdampak dan Sebagian Mengungsi
Bencana tersebut turut berdampak pada 18 keluarga dengan total 72 jiwa. Beberapa warga memilih mengungsi ke rumah sanak keluarga karena kondisi tempat tinggal mereka tidak lagi aman.
Sejumlah rumah mengalami kerusakan cukup parah. Ada pula rumah yang tertimpa pohon tumbang setelah angin berembus kencang di kawasan permukiman.
BPBD Mamasa langsung melakukan kaji cepat untuk mengetahui kondisi di lapangan. Petugas mendata jumlah keluarga terdampak, tingkat kerusakan bangunan, serta kebutuhan warga yang membutuhkan bantuan.
Data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk menentukan langkah penanganan berikutnya. Bantuan bagi warga terdampak juga menjadi salah satu hal yang masuk dalam perhatian BPBD.
Baca Juga:Â Sungai Sibuluan Meluap, Banjir Rendam Tapteng dan Warga Mulai Mengungsi
Hujan Berlangsung Berjam-jam Sebelum Angin Menerjang
Kepala Desa Uhaidao Ali mengatakan hujan sudah mengguyur wilayahnya selama beberapa jam sebelum angin kencang datang. Menurutnya, hujan deras juga terjadi selama dua hari terakhir.
Kondisi tersebut membuat tanah dan lingkungan sekitar terus menerima guyuran air sebelum angin kencang menerjang pada Jumat sore. Warga kemudian melihat sejumlah bangunan mengalami kerusakan akibat terpaan angin.
Perubahan cuaca yang cukup cepat membuat warga harus lebih waspada. Apalagi, peristiwa tersebut terjadi ketika wilayah Mamasa masih berada dalam periode musim kemarau.
MTs Uhaidao Siapkan Kelas Darurat untuk 72 Siswa
Salah satu bangunan yang mengalami kerusakan cukup parah adalah MTs Uhaidao. Sekolah tersebut harus mencari alternatif ruang belajar setelah beberapa bagian bangunan tidak lagi dapat digunakan.
Kepala MTs Uhaidao Asbadiun menjelaskan empat ruangan terdampak. Dua ruangan mengalami kerusakan paling parah karena sebagian besar atap terangkat dan plafon ikut roboh.
Puluhan lembar seng bahkan terlepas dari bangunan dan terbawa angin hingga sekitar 100 meter. Kondisi itu membuat pihak sekolah mempertimbangkan penggunaan ruang sekolah lain sebelum menyiapkan tenda sebagai kelas sementara.
Jika tidak menemukan ruangan yang dapat dipinjam, pihak sekolah akan memanfaatkan tenda untuk mendukung kegiatan belajar 72 siswa. Langkah tersebut menjadi pilihan sementara agar proses pendidikan tetap berjalan.
Buku dan Fasilitas Sekolah Ikut Terdampak
Kerusakan tidak hanya terjadi pada bangunan MTs Uhaidao. Air hujan juga masuk ke beberapa bagian sekolah sehingga sejumlah buku pelajaran sempat terendam.
Pihak sekolah kemudian menjemur buku-buku yang masih bisa diselamatkan. Perangkat WiFi juga mengalami kerusakan setelah terkena air dan mengalami korsleting.
Hingga kini, pihak sekolah belum menghitung total kerugian secara keseluruhan. Asbadiun berharap pemerintah segera membantu perbaikan bangunan agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali normal.
BPBD Mamasa sendiri masih melanjutkan pendataan dampak bencana. Pemerintah dan petugas terkait perlu memastikan kebutuhan warga serta sekolah terdampak agar proses pemulihan dapat berjalan secara bertahap.