Banjir rendam sejumlah perumahan di Semarang, warga panik, jalan terendam dan rumah banyak yang tergenang air.
Air setinggi lutut hingga pinggang menggenangi rumah dan jalanan, memaksa warga waspada dan segera mengevakuasi barang-barang berharga.
Dalam NASIB RAKYAT ini, kami akan mengulas penampakan banjir di Semarang, dampaknya bagi warga, serta langkah-langkah yang diambil untuk menghadapi bencana ini.
Banjir Melanda Kota Semarang
Sejumlah wilayah di Kota Semarang, Jawa Tengah, kembali diterjang banjir sejak Minggu malam hingga Senin (16/2/2026). Air meluap deras, merendam rumah warga, jalanan, dan berbagai fasilitas umum, sehingga aktivitas masyarakat terganggu.
Wilayah Tembalang menjadi salah satu area yang terdampak paling parah. Ketinggian air di beberapa perumahan mencapai setinggi dada orang dewasa. Warga harus mengevakuasi diri dan barang berharga untuk menghindari kerugian lebih besar.
Banjir kali ini bukan hanya menimpa hunian warga, tetapi juga fasilitas sosial seperti rumah ibadah, sekolah, dan fasilitas publik lainnya, sehingga menimbulkan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat di area terdampak.
Perumahan Terdampak Dan Jumlah Jiwa
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang menunjukkan sejumlah perumahan terdampak cukup parah dengan ratusan jiwa terkena dampak langsung.
Perumahan Argo Residence tercatat 160 jiwa terdampak, Grand Batik Semarang 33 jiwa, Grand Permata Tembalang 313 jiwa, Kelurahan Rowosari 500 jiwa, dan Perumahan Dinar Indah Tembalang 34 jiwa.
Ketinggian air tertinggi terjadi di Perumahan Dinar Indah Tembalang, mencapai 150 cm pada dini hari, membuat warga harus segera mengevakuasi diri, terutama anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki mobilitas terbatas.
Baca Juga: Banjir Bandang Cisanggarung Terjang Cirebon Timur, Ribuan Warga Terdampak
Kondisi Saat Ini Dan Proses Surut
Saat ini, air mulai surut di beberapa lokasi terdampak dengan tinggi genangan berkisar antara 20 hingga 30 cm. Warga sudah mulai membersihkan rumah, halaman, dan jalan dari sisa-sisa banjir.
BPBD Kota Semarang terus melakukan pemantauan dan asesmen wilayah yang masih terdampak. Proses evakuasi warga yang membutuhkan bantuan darurat masih berlangsung, terutama bagi mereka yang rumahnya terendam cukup tinggi.
Meski genangan mulai surut, risiko kesehatan tetap tinggi. Warga dihimbau menjaga kebersihan lingkungan, menghindari air kotor, dan memastikan pasokan air bersih agar kesehatan tetap terjaga pasca-banjir.
Penanganan Darurat Dan Bantuan Logistik
BPBD Kota Semarang menyebutkan beberapa kebutuhan mendesak di lokasi terdampak, termasuk pembersihan pasca-banjir, distribusi logistik, serta penyediaan air bersih, makanan, pakaian, dan obat-obatan bagi warga terdampak.
Evakuasi warga menjadi prioritas utama, khususnya anak-anak, lansia, dan mereka yang rumahnya tergenang paling parah. Aparat dan relawan bekerja sama menyalurkan bantuan untuk memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi.
Langkah-langkah ini dilakukan untuk menjaga keselamatan warga, meminimalkan risiko penyakit, dan membantu masyarakat pulih sehingga bisa kembali beraktivitas normal secepat mungkin.
Dampak Sosial, Lingkungan Dan Kesiapsiagaan
Banjir di Semarang mengganggu aktivitas warga sehari-hari, mulai dari sekolah, pekerjaan, hingga kegiatan sosial. Banyak warga harus menunda rutinitas karena genangan air yang tinggi.
Selain itu, banjir merusak fasilitas umum, jalan, dan rumah warga, sehingga proses pemulihan membutuhkan waktu dan koordinasi matang antara pemerintah, aparat, dan masyarakat.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana. Infrastruktur yang mampu menahan banjir, sistem peringatan dini, serta kesadaran masyarakat dalam menghadapi genangan air menjadi kunci untuk mengurangi dampak banjir di masa mendatang.
Warga juga disarankan menyusun rencana darurat, menyiapkan peralatan evakuasi, dan menyimpan logistik penting agar siap menghadapi banjir mendadak di masa depan. Kesadaran dan koordinasi komunitas menjadi faktor penting untuk meminimalkan risiko bencana.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari daerah.sindonews.com
- Gambar Kedua dari tempo.co