Gempa bumi kembali mengguncang wilayah Sulawesi Tengah dan meninggalkan luka lama yang belum sempat pulih.
Warga Kabupaten Sigi, khususnya di Kecamatan Nokilalaki, kembali menghadapi kerusakan rumah akibat gempa magnitudo 6,7 yang berpusat di sekitar Kota Palu. Kondisi ini membuat banyak keluarga harus memulai lagi dari awal di tengah keterbatasan.
Bagi sebagian warga, bencana tahun ini terasa seperti pengulangan dari peristiwa 2018. Bedanya, kini mereka menghadapi kondisi yang lebih berat karena rumah yang dulu sempat rusak kembali hancur dan tidak lagi layak huni. Simak ulasan lengkapnya dari NASIB RAKYAT.
Gempa 2026 Kembali Guncang Palu dan Sigi
BMKG mencatat gempa tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 terjadi pada Selasa (16/6/2026) pukul 11.27 WITA. Pusat gempa berada di darat sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu dengan kedalaman 10 kilometer.
Guncangan kuat terasa hingga Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah dan membuat banyak bangunan kembali mengalami kerusakan. Getaran yang datang tiba-tiba itu membuat warga berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Sejumlah wilayah di Kecamatan Nokilalaki menjadi lokasi paling terdampak. Warga langsung mendirikan tenda darurat di sekitar rumah mereka karena bangunan sudah tidak bisa lagi digunakan.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Ribuan Warga Terdampak dan Rumah Alami Kerusakan
Data BPBD Sigi mencatat 2.109 kepala keluarga atau 6.412 jiwa terdampak gempa. Dari jumlah tersebut, 1.652 rumah mengalami kerusakan dengan berbagai tingkat keparahan.
Sebanyak 1.472 rumah mengalami kerusakan ringan, 111 rumah rusak sedang, dan 69 rumah rusak berat. Angka ini menunjukkan dampak gempa cukup luas dan mempengaruhi kehidupan ribuan warga.
Desa Kamarora A dan Kamarora B menjadi wilayah dengan kerusakan paling parah. Banyak rumah retak hingga roboh sebagian, membuat warga memilih tinggal sementara di tenda demi keselamatan.
Baca Juga:Â Mencekam! Detik-Detik Rumah Jebol Saat Longsor Terjang Lembang, Warga Panik
Kisah Warga yang Rumahnya Rusak Dua Kali
Salah satu warga, Lindo, mengaku mengalami situasi yang sama seperti tahun 2018. Rumahnya yang dulu sempat rusak akibat gempa lama kembali hancur setelah gempa terbaru mengguncang wilayah tersebut.
Lindo menceritakan bahwa pada gempa 2018, rumahnya sudah retak dan terbelah, meski tidak separah kondisi saat ini. Setelah kejadian itu, ia sempat menjalani hidup dengan kondisi rumah yang belum sepenuhnya pulih.
Namun hingga kini, ia belum pernah menerima bantuan rehabilitasi rumah. Ia sempat didata oleh petugas, tetapi bantuan yang diharapkan tidak pernah datang. Akhirnya ia memperbaiki rumah secara mandiri sesuai kemampuan.
Harapan Warga Soal Bantuan yang Tak Kunjung Datang
Warga lain, Afrina, juga mengalami hal serupa. Rumahnya rusak pada gempa 2018, tetapi ia tidak pernah menerima bantuan perbaikan hingga gempa terbaru kembali menghantam wilayahnya.
Kondisi rumahnya kini semakin parah dan tidak lagi layak ditempati. Ia berharap pemerintah memberi perhatian lebih kepada warga yang belum tersentuh bantuan sejak bencana sebelumnya.
Selain itu, Afrina menyoroti kebutuhan dasar di lokasi pengungsian. Warga masih membutuhkan tenda tambahan, terutama saat hujan karena banyak area menjadi becek dan tidak nyaman untuk tidur.
Warga Bertahan di Tengah Keterbatasan Bantuan
Juanda, warga lainnya, menyebut bantuan tenda memang sudah mulai datang, tetapi jumlahnya belum mencukupi kebutuhan seluruh pengungsi. Banyak warga masih harus berbagi tempat dengan kondisi terbatas.
Ia menjelaskan bahwa sebagian barang dari rumah yang rusak masih diselamatkan warga, namun tidak semua bisa ditampung dengan baik. Hal ini membuat situasi pengungsian menjadi semakin padat.
Warga berharap bantuan tambahan segera datang agar mereka bisa bertahan dengan kondisi yang lebih layak sambil menunggu proses pemulihan pascabencana.
Kesimpulan
Gempa yang kembali mengguncang Sigi pada 2026 Sulawesi Tengah membawa kembali luka lama yang belum pulih sejak 2018. Ribuan warga terdampak, dan banyak rumah kembali rusak hingga tidak bisa dihuni. Di tengah kondisi tersebut, warga masih berharap adanya bantuan nyata, baik untuk perbaikan rumah maupun kebutuhan dasar di pengungsian. Situasi ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan perhatian jangka panjang agar warga benar-benar bisa bangkit kembali.