Gempa M 7,7 mengguncang Flores, NTT pada Sabtu (15/8/2026) dan berpusat 30 km timur laut Nagekeo hingga memicu peringatan dini tsunami dari BMKG.
Peringatan itu berakhir pada pukul 07.30 WIB setelah pemantauan menunjukkan gelombang tsunami di sejumlah wilayah berada di bawah satu meter. Meski situasi kembali terkendali, potensi dampak gempa ini terhadap wilayah yang lebih jauh masih menarik perhatian, terutama pesisir Bali dan Jawa Timur. Simak ulasan lengkapnya dari NASIB RAKYAT.
Gempa M 7,7 NTT Sempat Picu Peringatan Tsunami
Gempa yang mengguncang kawasan Flores terjadi akibat aktivitas tektonik di Laut Flores. Besarnya magnitudo membuat BMKG perlu mengantisipasi kemungkinan munculnya tsunami, terutama di wilayah yang berada dekat dengan pusat gempa.
Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Dr Ir Amien Widodo MSi, menjelaskan bahwa karakter gempa tersebut memang memungkinkan terjadinya tsunami. Pergeseran dasar laut menjadi faktor penting yang menentukan munculnya gelombang setelah gempa kuat terjadi.
Menurut Amien, masyarakat tetap perlu memahami bahwa peringatan tsunami tidak selalu berarti gelombang besar akan menerjang seluruh wilayah. Besaran gelombang sangat bergantung pada mekanisme gempa dan seberapa besar dasar laut mengalami perubahan secara vertikal.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Jawa dan Bali Utara Masuk Simulasi Tsunami
Meski pusat gempa berada di NTT, simulasi penyebaran gelombang menunjukkan jangkauan yang cukup luas. Prof Amien menyebut gelombang berpotensi bergerak hingga pesisir Bali bagian utara serta wilayah Jawa Timur bagian timur.
“Kalau kemarin disimulasikan memang sampai ke mana-mana istilahnya kalau terjadi tsunami. Bali tapi bagian utara, Jawa ya bagian sisi Situbondo bagian timur, semacam itu. Lombok ya bagian utara,” kata Amien kepada detikJatim, Minggu (16/8/2026).
Namun, masyarakat tidak perlu langsung menganggap wilayah Jawa-Bali menghadapi ancaman tsunami besar. Jarak yang jauh dari sumber gempa membuat energi gelombang terus berkurang ketika bergerak menuju wilayah lain.
Baca Juga:Â 9 Bulan Tanpa Kepastian? Massa Desak Penanganan Bencana Aceh Lebih Serius
Begini Proses Tsunami Bisa Terjadi
Amien menjelaskan gempa tersebut berkaitan dengan pergeseran dasar laut ke atas di kawasan Laut Flores. Mekanisme itu terjadi pada sesar naik atau back-arc thrust fault.
Ketika dasar laut bergerak secara vertikal, massa air di atasnya ikut terdorong. Perubahan posisi air tersebut kemudian menghasilkan gelombang yang bergerak menjauhi sumber gempa.
Fenomena itu juga dapat membuat permukaan laut di wilayah tertentu terlihat surut terlebih dahulu. Setelah air bergerak mengikuti perubahan dasar laut, massa air kemudian kembali bergerak untuk mencapai keseimbangan dan membentuk gelombang tsunami.
Risiko Tsunami ke Jawa Timur Sangat Kecil
Walaupun simulasi menunjukkan gelombang bisa menjangkau wilayah yang jauh, Amien menilai risiko benturan tsunami besar hingga pesisir Jawa Timur sangat kecil. Salah satu alasannya adalah dorongan vertikal dasar laut di Laut Flores relatif minim.
Ia mencontohkan kondisi di Labuan Bajo yang lokasinya jauh lebih dekat dengan sumber gempa. Ketinggian gelombang di kawasan tersebut diperkirakan bahkan berada di bawah 30 sentimeter. Ketika gelombang bergerak semakin jauh, energinya ikut melemah.
“Di Labuan Bajo yang dekat saja mungkin di bawah 30 cm, maka yang jauh menjadi sangat berkurang,” ujarnya.
Sesar Laut Flores Berbeda dengan Patahan Jawa
Prof Amien juga membahas karakter geologi Laut Flores yang memiliki kemiripan dengan Sesar Kendeng di Jawa karena sama-sama berkaitan dengan sesar naik. Namun, kesamaan tersebut tidak berarti seluruh jalur patahan menjadi satu sistem yang sama.
Ia meluruskan anggapan mengenai jalur patahan yang disebut membentang hingga Surabaya, Madura, dan Tuban. Menurutnya, kawasan tersebut memiliki sistem patahan berbeda, yakni Sesar RMKS atau Rembang-Madura-Kangean-Sakala.
“Surabaya, Madura, Tuban itu jauh, beda lagi sebetulnya. Kalau Tuban itu sendiri ada patahan sendiri di sana, patahan RMKS,” kata Amien.
Dengan demikian, potensi tsunami akibat gempa M 7,7 di NTT perlu dilihat berdasarkan mekanisme sumber gempa dan kondisi wilayah masing-masing. Pesisir Jawa Timur dan Bali utara memang masuk dalam simulasi, tetapi risiko gelombang besar di wilayah tersebut tergolong sangat kecil.