Banjir mendadak meluap di Makassar saat waktu berbuka, memaksa ribuan warga meninggalkan rumah dan mencari pengungsian darurat.
Banjir kembali menerjang Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menambah cobaan warga yang tengah berpuasa Ramadan. Ratusan warga di Kecamatan Manggala dan Biringkanaya terpaksa mengungsi saat rumah mereka terendam air. Peristiwa ini menyoroti kerentanan wilayah terhadap bencana hidrometeorologi, terutama saat curah hujan tinggi.
Temukan rangkuman informasi menarik tentang rakyat lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di NASIB RAKYAT.
Makassar Dilanda Banjir di Bulan Ramadan
Banjir di Makassar dilaporkan mulai terjadi Selasa, 24 Februari 2026, setelah hujan deras mengguyur kota selama dua hari berturut-turut. Bencana hidrometeorologi ini menyebabkan air meluap merendam permukiman, memaksa warga meninggalkan rumah dalam kondisi darurat. Situasi diperparah karena terjadi di bulan Ramadan, menambah kesulitan pengungsi.
Salah seorang warga terdampak, Audensi, menceritakan bahwa hujan tak henti-hentinya turun dari Senin malam hingga Selasa pagi. Hujan terus berlangsung hingga malam hari, menyebabkan air mulai merendam rumahnya. Ia bersama keluarganya terpaksa mengungsi ke lokasi aman sejak Selasa sore, tepat setelah waktu berbuka puasa.
Audensi dan keluarganya di BTN Kodam III, Jalan Paccerakkang, Kecamatan Biringkanaya, mengungsi ke SD Paccerakkang Makassar bersama tiga anggota keluarga lain karena air banjir sudah setinggi betis. Ketiadaan akses air bersih dan toilet menjadi alasan utama mereka mengungsi.
Perjuangan Pengungsi Dan Trauma Banjir Tahunan
Audensi mengungkapkan bahwa ia dan keluarganya telah mempersiapkan diri untuk mengungsi sejak hujan deras mulai turun. Hal ini karena wilayah tempat tinggalnya memang menjadi langganan banjir tahunan. Ia sadar akan ancaman bencana, sehingga lebih baik segera mengungsi daripada terjebak saat air semakin tinggi.
Meski demikian, Audensi sempat kesulitan mencari tempat pengungsian. Ia dan keluarganya awalnya diarahkan ke Masjid Nurul Ikhlas, namun tempat tersebut sudah penuh sesak dengan korban banjir lainnya. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengungsi ke SD Paccerakkang karena lebih leluasa, terutama mengingat mereka membawa anak-anak.
Audensi mengaku sudah mengalami banjir tahunan sejak tinggal di BTN Kodam III pada tahun 2009. Ia dan keluarganya bahkan sudah dua kali mengungsi pada awal 2026 ini, yaitu pada Januari dan Februari. Banjir yang berulang ini menyebabkan banyak perabot rumah tangga dan fasilitas elektronik rusak, membuat warga merasa pasrah.
Baca Juga: Geger! 300 KK Terisolasi di Lembar, Batang Kelapa Jadi Tumpuan Setelah Jembatan Putus
Harapan Warga Dan Respon Pemerintah Kota
Warga lainnya, Naila, juga mengungsi di SD Paccerakkang setelah rumahnya di Bumi Tamalanrea Permai (BTP) Blok AF terendam banjir setinggi lutut orang dewasa. Ia mengungkapkan bahwa banjir kerap melanda setiap tahun sejak 2022, mengganggu aktivitas rumah tangga dan menyebabkan kesulitan air bersih serta memasak.
Naila berharap pemerintah dapat segera menyalurkan bantuan dan mengakomodir kebutuhan dasar para pengungsi, terutama air bersih dan makanan. Keterbatasan akses terhadap kebutuhan pokok menjadi kendala utama bagi warga di lokasi pengungsian, menambah penderitaan mereka di tengah bulan puasa.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, meninjau pengungsian Manggala dan memastikan kebutuhan dasar, termasuk makanan dan perlengkapan tidur, terpenuhi. Pemkot berkomitmen memantau pengungsi hingga air surut sepenuhnya serta mencari solusi jangka panjang menghadapi banjir.
Data Pengungsian Dan Dampak Pendidikan
Berdasarkan data BPBD Makassar hingga Rabu, 25 Februari 2026, pukul 21.30 Wita, sebanyak 878 warga dari Kecamatan Manggala dan Biringkanaya telah mengungsi di 15 titik lokasi. Pengungsian tersebar di gedung sekolah, masjid, kosan, posyandu, hingga kantor kelurahan, dengan ketinggian air rata-rata mencapai 80 sentimeter.
Pengungsi didominasi oleh warga Biringkanaya dengan total 493 jiwa dari Kelurahan Paccerakkang dan Katimbang. Sementara itu, di Kecamatan Manggala, terdapat 385 pengungsi dari Kelurahan Manggala dan Batua, dengan total 239 Kepala Keluarga yang terdampak bencana ini.
Dampak banjir juga dirasakan sektor pendidikan, di mana aktivitas belajar mengajar di sekolah dihentikan sementara. Dinas Pendidikan (Disdik) Makassar menetapkan siswa PAUD/TK, SD, dan SMP belajar dari rumah (daring) mulai 25-28 Februari 2026. Kebijakan ini diambil untuk memastikan keselamatan siswa dan kelancaran proses pembelajaran.
Dapatkan berita viral, trending, tentang rakyat paling menarik lainnya, eksklusif hanya di seputaran NASIB RAKYAT sumber informasi terkini yang selalu terupdate.
- Gambar Utama dari detik.com
- Gambar Kedua dari detik.com