Tangerang Selatan (Tangsel) tengah menghadapi krisis sampah yang semakin memprihatinkan, mengganggu kenyamanan dan kesehatan warganya.
Tumpukan sampah yang menggunung di berbagai sudut kota tidak hanya menimbulkan bau tak sedap, tetapi juga memicu kekesalan masyarakat yang merasa aktivitas sehari-hari mereka terhambat. Berikut ini, NASIB RAKYAT akan menyoroti urgensi penanganan masalah lingkungan yang lebih efektif dan berkelanjutan dari pemerintah setempat.
Gunung Sampah Di Sudut Kota
Pemandangan tumpukan sampah yang ditutup terpal namun tetap menyebarkan bau menyengat menjadi hal lumrah di beberapa ruas jalan Tangerang Selatan, seperti di Jalan Aria Putra, Ciputat. Sampah-sampah ini bahkan meluber keluar dari terpal, sedikit memakan lajur kendaraan dan mengganggu lalu lintas. Kondisi serupa juga terlihat di samping Pasar Cimanggis, di mana gunungan sampah menghalangi sebagian jalan.
Situasi ini memicu kemacetan parah karena pengendara harus menghindari tumpukan sampah tersebut. Banyak warga dan pengendara terpaksa menutup hidung saat melintas, merasakan dampak langsung dari buruknya pengelolaan sampah. Sampah-sampah yang terbungkus plastik hingga karung berjejer di pinggir jalan, menciptakan pemandangan yang tidak sedap dipandang.
Keluhan masyarakat semakin memuncak, dengan warga seperti Wawan (51) menyebutkan bahwa sampah-sampah tersebut belum diangkut selama berminggu-minggu. Bau yang ditimbulkan, terutama setelah hujan, menjadi sangat menyengat dan mengganggu aktivitas warga. Ini adalah cerminan nyata dari masalah lingkungan yang belum terselesaikan di wilayah tersebut.
Ayo bergabung di chanel whatsapp Nasibrakyat, dapatkan informasi terkini lebih cepat
Dampak Langsung Bagi Masyarakat
Tak hanya bau busuk yang mengganggu, tumpukan sampah ini juga menjadi sarang belatung yang memenuhi area di sekitarnya, bahkan hingga ke jalanan. Wawan mengungkapkan bahwa setiap pagi, belatung-belatung tersebut terlihat jelas menyebar dari tumpukan sampah. Fenomena ini menambah daftar panjang kekesalan warga terhadap kondisi lingkungan mereka.
Pedagang seperti Rizal (32) mengungkapkan bahwa tumpukan sampah ini sudah hampir sebulan tidak ditangani, padahal mereka telah rutin membayar iuran pengelolaan sampah. Kondisi ini membuat mereka merasa kecewa dan bertanya-tanya mengenai efektivitas pengelolaan dana tersebut. Mereka berharap ada solusi cepat dan konkret dari pihak berwenang.
Wawan, seorang pedagang yang telah lama berjualan di lokasi tersebut, sangat merasakan dampak negatifnya. Bau busuk dan keberadaan belatung sangat mengganggu aktivitas berdagang dan kenyamanan pembeli. “Apalagi kalau habis hujan, kita mau parkir motor, di situ belatungnya sudah penuh di bawah,” keluhnya, menggambarkan betapa parahnya kondisi tersebut.
Baca Juga: Krisis di Nagan Raya Warga Mengungsi ke Hutan Usai Banjir Bandang Menghancurkan Rumah
Tanggap Darurat Dan Kompensasi
Menanggapi krisis ini, Pemerintah Kota Tangerang Selatan telah menetapkan status tanggap darurat pengelolaan sampah. Status ini berlaku selama 14 hari, dari 23 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026, dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan berdasarkan hasil pemantauan lapangan. Keputusan ini menunjukkan pengakuan pemerintah atas urgensi masalah.
Kepala Diskominfo Tangsel, Tubagus Asep Nurdin, menyatakan bahwa status tanggap darurat ini diatur melalui Keputusan Wali Kota Nomor 600.1.17.3/Kep.500-Huk/2025. Penetapan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk penanganan yang lebih serius dan terkoordinasi. Pemkot Tangsel juga menyiapkan langkah-langkah perbaikan untuk mengatasi masalah sampah yang terus menumpuk.
Selain itu, Pemkot Tangsel juga menyediakan kompensasi dampak negatif (KDN) bagi 2.044 keluarga yang tinggal di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang. Kompensasi sebesar Rp 250 ribu per bulan ini telah dianggarkan untuk tahun 2026, menunjukkan upaya pemerintah untuk meringankan beban masyarakat terdampak.
Upaya Penanganan Bertahap
Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, menjelaskan bahwa sampah yang menumpuk di berbagai titik sedang diangkut secara bertahap. Ia mengimbau masyarakat untuk sementara waktu menahan diri dari membuang sampah di titik-titik pengumpulan umum, guna membantu kelancaran proses pengangkutan. Ini adalah seruan untuk kolaborasi antara pemerintah dan warga.
Benyamin Davnie memahami kekhawatiran yang dirasakan warga akibat tumpukan sampah. Ia menegaskan bahwa proses pengangkutan terus dilakukan dengan intensitas tinggi untuk membersihkan wilayah yang terdampak. Komitmen ini diharapkan dapat meredakan ketegangan dan kekesalan yang dirasakan masyarakat.
Pemkot Tangsel juga berkoordinasi dengan daerah sekitar seperti Kota Serang dan Bogor untuk mengatur rute pengangkutan sampah agar lebih cepat dan efisien. Benyamin Davnie memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi dan berkomitmen untuk terus meningkatkan layanan kebersihan demi kenyamanan bersama.
Dapatkan berita viral, trending, tentang rakyat paling menarik lainnya, eksklusif hanya di seputaran NASIB RAKYAT sumber informasi terkini yang selalu terupdate.
- Gambar Utama dari news.detik.com
- Gambar Kedua dari cna.id