Trauma Berat Ketua RT Cisarua Usai Warga Hilang Dalam 25 Menit

Trauma Berat Ketua RT Cisarua Usai Warga Hilang Dalam 25 Menit Trauma Berat Ketua RT Cisarua Usai Warga Hilang Dalam 25 Menit
Bagikan

Bencana alam selalu menyisakan luka mendalam, tak hanya fisik tetapi juga batin, yang sulit pulih dalam waktu panjang sekali.

Trauma Berat Ketua RT Cisarua Usai Warga Hilang Dalam 25 Menit

Di balik setiap reruntuhan dan kehilangan, terukir kisah-kisah pilu yang menghantui para penyintas. Salah satunya adalah kisah Abah Ade, Ketua RT di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. ​Ia menjadi saksi bisu amukan alam yang merenggut puluhan warganya dalam sekejap, meninggalkan trauma yang mungkin tak akan pernah pulih.

Berikut ini, menjadi pengingat betapa rapuhnya kehidupan di hadapan kekuatan alam.

Detik-Detik Maut Di Gunung Burangrang

Malam itu, Sabtu dini hari (24/1/2026), menjadi saksi bisu kengerian yang tak terbayangkan. Abah Ade, pria berusia 60 tahun, masih terjaga ketika getaran tanah mulai terasa, disusul suara gemuruh dahsyat. Ia sempat mengira suara itu berasal dari helikopter atau pesawat, namun keganjilan itu mendorongnya untuk memeriksa ke luar rumah.

Siapa sangka, pemandangan di luar rumahnya adalah awal dari bencana besar. Air bercampur tanah mulai mengalir deras, mulanya hanya sedikit, namun dengan cepat volumenya bertambah secara masif. Dalam waktu kurang dari 25 menit, lumpur dingin dari puncak Gunung Burangrang menerjang pemukiman, memusnahkan segalanya yang dilewatinya.

Abah Ade bergegas menyelamatkan anak dan istrinya yang terlelap. Setelah memastikan keluarganya aman, ia mencoba menolong warga lain. Dengan suara parau, ia berteriak memperingatkan penghuni rumah-rumah sekitar agar segera keluar. Namun, kekuatan lumpur yang tak terhentikan merendam separuh bangunan, dan jeritan minta tolong terdengar dari segala penjuru, mengiringi kehancuran.

Ayo bergabung di chanel whatsapp Nasibrakyat, dapatkan informasi terkini lebih cepat

Saksi Bisu Dan Kehilangan Yang Tak Terhitung

Dalam keputusasaan, Abah Ade berupaya meraih tangan tetangganya yang sudah terendam lumpur. Namun, longsoran susulan yang datang semakin banyak dan deras, memaksa ia untuk mundur demi keselamatan diri. Momen itu menjadi bayangan pahit yang terus menghantuinya, mengingat ia harus melepaskan tangan tetangga yang berjuang sendirian melawan maut.

Abah Ade adalah salah satu dari 78 korban selamat dari bencana longsor tersebut. Namun, kelegaan atas keselamatannya dibarengi duka mendalam. Dari 23 Kepala Keluarga (KK) di Kampung Pasir Kuning, hanya dua KK, termasuk keluarganya, yang berhasil selamat. Sekitar 70 warganya kini telah tiada, terkubur di bawah material longsor.

Pemandangan di puncak Gunung Burangrang, yang sebelumnya hijau asri, kini berubah drastis menjadi cokelat tanah yang kontras. Oase yang selama ini menaungi kehidupan warga, kini berubah menjadi saksi bisu tragedi. Abah Ade tak kuasa menahan kesedihan atas kehilangan orang-orang yang dikenalnya, bahkan trauma benturan kayu di dahinya menjadi pengingat pahit perjuangannya.

Baca Juga: Jakarta Utara Dikepung Banjir! 5 RT Masih Terendam, Ratusan Warga Mengungsi Malam Ini!

Jeritan Trauma Dari Para Penyintas

Jeritan Trauma Dari Para Penyintas

Luka di dahi Abah Ade hanyalah sebagian kecil dari luka yang jauh lebih dalam. Trauma psikis yang ia alami begitu mendalam, membuatnya enggan kembali ke kampung halamannya. Bayangan wajah tetangga yang berteriak meminta tolong dan mimpi buruk malam itu terus berputar dalam ingatannya. “Saya trauma. Saya mau pindah, sudah tidak mau lagi tinggal di sana,” ucapnya.

Trauma ini tidak hanya dialami Abah Ade. Banyak pengungsi lain, terutama kaum perempuan, tak henti-hentinya menangis setiap kali teringat bencana yang merenggut segalanya. Tangisan mereka adalah ekspresi dari rasa kehilangan, ketidakberdayaan, dan ketakutan yang mendalam, menunjukkan betapa dahsyatnya dampak psikologis dari sebuah bencana.

Kisah dari Cisarua ini adalah cerminan dari kerentanan manusia di hadapan alam. Bencana ini bukan hanya tentang kerusakan fisik, tetapi juga tentang kehancuran jiwa dan kenangan. Masyarakat yang terdampak membutuhkan tidak hanya bantuan materi, tetapi juga dukungan psikososial yang berkelanjutan untuk dapat bangkit dari keterpurukan ini.

Belajar Dari Tragisnya Cisarua

Bencana longsor Cisarua ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya mitigasi bencana dan kesiapsiagaan masyarakat. Perubahan fungsi lahan di sekitar Gunung Burangrang disinyalir menjadi salah satu faktor yang memperparah dampak longsor, mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan lingkungan sekitar.

Pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat perlu bekerja sama untuk mengidentifikasi area-area rawan bencana dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang konkret. Edukasi masyarakat tentang tanda-tanda awal bencana dan prosedur evakuasi juga krusial untuk meminimalisir korban jiwa di masa mendatang.

Kisah Abah Ade dan warga Cisarua adalah panggilan untuk kita semua. Panggilan untuk lebih peka terhadap kondisi lingkungan, panggilan untuk bergotong royong dalam menghadapi setiap tantangan, dan panggilan untuk terus belajar dari setiap tragedi agar tidak terulang kembali di kemudian hari.

Ikuti terus berita terbaru seputar serta informasi menarik lainnya yang menambah wawasan Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari detik.com
  • Gambar Kedua dari detik.com