Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh pada akhir tahun 2025 meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat yang terdampak.

Banjir dan longsor yang melanda beberapa wilayah di Provinsi Aceh pada akhir November 2025 menghadirkan suasana mencekam yang sulit dilupakan bagi ribuan warga.
Hujan deras berlangsung selama beberapa hari berturut-turut, memicu luapan sungai dan genangan air di permukiman, desa, hingga kota menciptakan bencana yang menurut banyak warga “seumur hidup belum pernah seperti ini.”
Banjir Aceh Tenggara
Banjir yang melanda Aceh Tenggara akhir November 2025 menjadi mimpi buruk bagi banyak warga sungai-sungai meluap dan air bah menerjang perkampungan serta permukiman. Memaksa ratusan kepala keluarga kehilangan tempat tinggal.
Menurut laporan instansi setempat, hujan intensitas tinggi yang mengguyur beberapa hari membuat debit sungai meningkat drastis. Sehingga air bah menyapu sedikitnya 65 desa di 14 kecamatan. Banyak rumah terendam, jalan dan jembatan rusak parah, dan akses ke sejumlah lokasi menjadi terputus.
Korban jiwa pun jatuh tercatat dua orang meninggal dan satu orang hilang. Sementara sekitar 1.879 warga terdampak langsung. Sebanyak 50 kepala keluarga terpaksa mengungsi ke lokasi aman, meninggalkan rumah dan harta benda mereka.
Situasi ini memaksa otoritas setempat menetapkan status tanggap darurat bencana untuk segera mengevakuasi warga. Menyalurkan bantuan dan memperbaiki infrastruktur yang rusak agar kehidupan masyarakat dapat pulih secepatnya.
Kisah Dramatis Warga Krueng Mane
Warga Krueng Mane dikejutkan oleh banjir bandang yang datang tiba-tiba saat hujan deras tak kunjung berhenti. Air sungai yang pada awalnya tampak normal melonjak secara ekstrem karena luapan dan jebolnya tanggul, menyapu rumah dan jalan dalam hitungan menit.
Banyak keluarga tak sempat menyelamatkan barang berharga, dan harus lari ke tempat tinggi bahkan ke hutan di sekitar kawasan hanya dengan membawa pakaian seadanya. Suasana panik, air kotor, lumpur dan sampah menyelimuti kampung bagi mereka. Malam itu menjadi mimpi buruk yang tak terlupakan.
Setelah air surut, yang tertinggal hanyalah kerusakan dan rasa duka rumah hancur, barang habis terbawa arus, jalan-jalan putus, dan akses ke kampung terisolasi. Sejumlah warga, termasuk yang tua dan anak-anak, terpaku menyaksikan puing-puing rumah mereka sebagian menjadi pengungsi, bergantung pada bantuan darurat.
Banyak di antara mereka yang merasa bahwa bencana ini “tak pernah terjadi sepanjang ingatan hidup” bencana ini merenggut rasa aman, menghapus kenangan, dan menyisakan trauma mendalam. Tapi di tengah kehancuran, terlihat pula kesolidan warga saling bantu. Berbagi tempat berlindung dan makanan seadanya sambil menunggu bantuan datang.
Baca Juga: Curah Hujan Tinggi, dan Sistem Drainase Buruk Picu Banjir Besar di Medan
Jumlah Korban Jiwa di Aceh

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) baru-baru ini memperbarui data korban jiwa akibat banjir dan longsor yang melanda Provinsi Aceh. Hingga Jumat, 28 November 2025, tercatat setidaknya 35 warga Aceh meninggal dunia. Sementara 25 orang dinyatakan hilang dan 8 orang luka-luka.
Perlu dicatat bahwa data ini bersifat sementara karena beberapa wilayah masih terisolir dan evakuasi serta pencarian korban masih berlangsung. Distribusi korban ini tersebar di beberapa kabupaten/kota terdampak.
Misalnya, di Aceh Tengah tercatat korban tewas paling banyak. Sedangkan kabupaten seperti Bener Meriah dan Aceh Tenggara juga melaporkan angka kematian maupun hilang.
Kerugian Meluas di Seluruh Aceh
Banjir dan longsor yang melanda Provinsi Aceh pada akhir November 2025 menyebabkan kerugian meluas yang sangat besar bukan hanya berupa kerusakan fisik rumah dan infrastruktur. Tetapi juga lumpuhnya kehidupan sosial-ekonomi masyarakat.
Di banyak kabupaten dan kota, ribuan rumah kebanjiran, akses jalan dan jembatan putus. Lalu layanan dasar seperti listrik dan komunikasi terganggu akibat putusnya jaringan transmisi. Dampak juga menyentuh lahan pertanian dan mata pencaharian warga.
Sehingga hilangnya penghasilan bagi banyak keluarga membuat penderitaan makin berat. Sektor pendidikan dan pelayanan publik ikut terhenti ketika sekolah ditutup dan fasilitas publik ikut rusak atau tidak bisa diakses.
Kesaksian Warga
Banyak warga Aceh yang merasakan bahwa banjir kali ini berbeda dari yang sebelumnya. Kesaksian Uliya Azri di Krueng Mane yang menyebut “Selama sejarah, enggak pernah gini” mencerminkan perasaan banyak warga lainnya.
Azharul Husna, warga Banda Aceh, juga mengungkapkan bahwa listrik di daerahnya padam sejak dua hari lalu dan sinyal telekomunikasi hilang-timbul. Ia juga menyebutkan bahwa ia dan keluarganya mengungsi tanpa listrik dan jaringan.
Curah hujan yang tinggi sejak beberapa hari terakhir menjadi pemicu utama bencana ini. Mengakibatkan banjir setidaknya di sembilan kota dan kabupaten di Provinsi Aceh.
Kondisi geologi yang labil juga turut memperparah dampak banjir dan tanah longsor. Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana di tengah perubahan iklim global.
Simak dan ikuti terus informasi menarik yang kami berikan setiap hari tentunya terupdate dan terpercaya hanya di NASIB RAKYAT.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari news.detik.com
- Gambar Kedua dari www.jpnn.com