BNPB bergerak cepat membersihkan sawah terdampak banjir bandang di Aceh Tengah kayu hanyut dan lumpur tebal.
Upaya ini memastikan masyarakat dapat kembali menanam tepat waktu pada musim tanam Februari-April 2026. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah desa, dan warga diharapkan memulihkan produktivitas sawah, memulihkan ekonomi lokal.
Simak informasi terbaru dan terviral tentang bencana alam yang terjadi yang akan kita bahas hanya ada di NASIB RAKYAT.
BNPB Percepat Pemulihan Sawah Terdampak Banjir
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tengah mempercepat pemulihan lahan pertanian yang terdampak banjir bandang di Kampung Toweren, Lut Tawar, Aceh Tengah, Aceh. Upaya ini dilakukan agar masyarakat dapat kembali menanam dan menggarap sawah mereka menjelang musim tanam medio Februari-April 2026.
Menurut Abdul, secara geografis, Kampung Toweren berada di kawasan perbukitan dataran tinggi Gayo yang rawan cuaca ekstrem. Curah hujan tinggi yang berlangsung lama menyebabkan lereng tidak mampu menahan aliran air, sehingga memicu banjir bandang dari wilayah hulu.
Akibatnya, lahan pertanian yang menjadi sumber ekonomi utama warga tertutup sedimen lumpur tebal dan material kayu. Aktivitas bertani sempat terhenti karena sawah tidak bisa digarap. “Lahan yang biasanya menjadi urat nadi ekonomi kini tertutup oleh tumpukan kayu dan lumpur. Para petani terpaksa berhenti beraktivitas sementara,” ujar Abdul.
Sawah Terdampak Banjir
Abdul Muhari menambahkan, perubahan kondisi lahan pasca-bencana begitu drastis. Sawah yang sebelumnya rapi kini menyerupai “hutan kayu” berserakan, membuat proses bertani tidak mungkin dilakukan tanpa pembersihan menyeluruh. Lumpur tebal menutupi sebagian besar lahan, sementara gelondongan kayu berukuran besar.
BNPB bersama pemerintah desa dan unsur terkait mulai mengintensifkan pembersihan sejak Minggu (22/2). Sejumlah alat berat dikerahkan untuk memindahkan kayu dari areal persawahan dan membuka akses lahan. Langkah ini menjadi prioritas utama agar petani dapat kembali menggarap sawah sebelum musim tanam tiba.
Dalam proses pembersihan, kayu sementara dipindahkan ke lahan kosong milik warga yang lebih stabil. Selain membuka akses, langkah ini juga dimaksudkan agar kayu dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan bangunan atau kayu bakar. Dengan demikian, material bencana tetap memiliki nilai guna dalam proses pemulihan.
Baca Juga: Longsor Lumpuhkan Tasikmalaya, Jalur Dua Kecamatan Terputus
Tantangan dan Dukungan Percepatan Pemulihan
Meski upaya pembersihan terus berjalan, volume lumpur dan kayu yang menutupi lahan pertanian menjadi tantangan besar. BNPB menyebutkan bahwa kerjasama lintas kementerian dan lembaga dibutuhkan untuk menambah dukungan alat berat. Alat-alat ini akan mempercepat pengerukan sedimen dan pemindahan kayu berukuran besar.
Abdul menegaskan, pembersihan tidak hanya sekadar memindahkan material, tetapi juga memperhatikan keamanan warga dan kelestarian lahan. Petugas gabungan memastikan bahwa proses dilakukan secara sistematis agar tidak menimbulkan kerusakan tambahan pada sawah maupun infrastruktur desa yang tersisa.
Selain alat berat, BNPB juga melibatkan tenaga lokal yang memahami karakter lahan dan pola aliran banjir. Sinergi antara petugas, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan serta memastikan lahan siap untuk ditanami kembali sebelum musim tanam resmi dimulai.
Harapan Sawah Kembali Subur
BNPB berharap kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat mampu mengembalikan produktivitas lahan pertanian di Kampung Toweren. Dengan pemulihan sawah, roda perekonomian warga diharapkan kembali berjalan normal, sekaligus menjaga ketahanan pangan lokal.
Pemulihan juga mencakup pemanfaatan kayu dan material lain yang terbawa banjir untuk membantu perbaikan rumah dan fasilitas desa. Hal ini menunjukkan bahwa proses pemulihan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga membantu warga kembali bangkit secara ekonomi dan sosial.
Abdul Muhari menutup pernyataannya dengan optimisme. “Dengan kerja sama yang baik antara BNPB, pemerintah desa, dan masyarakat, kami yakin pertanian di Kampung Toweren bisa kembali produktif. Warga bisa menanam tepat waktu, ekonomi lokal pulih, dan trauma pasca-bencana dapat berkurang,” tuturnya.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari antaranews.com
- Gambar Kedua dari kehutanan.go.id