Perjalanan Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas, menuju pelosok Desa Salamwates, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, menjadi sorotan.
Bukan karena seremoni atau agenda formal semata, melainkan karena ia memilih melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor milik warga setelah kendaraan dinas tidak mampu melewati jalan sempit, berbatu, dan licin.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda reses di Daerah Pemilihan (Dapil) VII Jawa Timur. Dalam kesempatan itu, Ibas ingin melihat langsung kondisi masyarakat, mulai dari akses jalan hingga layanan dasar yang masih menjadi kebutuhan utama, termasuk akses listrik bagi warga yang tinggal di daerah terpencil. Simak ulasan nya dari NASIB RAKYAT.
Perjalanan Sulit Demi Melihat Kondisi Warga Secara Langsung
Medan menuju Desa Salamwates bukanlah jalur yang mudah dilalui. Jalan yang sempit dengan permukaan berbatu membuat kendaraan roda empat tidak bisa melanjutkan perjalanan. Situasi itu tidak menghentikan langkah Ibas. Ia memilih menggunakan sepeda motor milik warga agar tetap dapat mencapai rumah-rumah penduduk.
Setibanya di lokasi, ia menyusuri permukiman sambil berdialog dengan masyarakat. Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk mengetahui secara langsung berbagai persoalan yang masih dihadapi warga, terutama mengenai akses infrastruktur dan kebutuhan dasar yang belum sepenuhnya terpenuhi.
Langkah turun langsung ke lapangan juga memberi gambaran nyata mengenai tantangan yang dihadapi masyarakat di wilayah pelosok. Kondisi jalan yang sulit dilalui menjadi salah satu faktor yang memengaruhi akses pelayanan publik dan pembangunan.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Rumah Pak Sukarni Kini Terang Berkat Bantuan Listrik
Salah satu rumah yang dikunjungi adalah milik Sukarni, penerima Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL). Rumah sederhana tersebut kini telah menikmati aliran listrik yang sebelumnya belum tersedia.
Ibas masuk ke dalam rumah untuk melihat langsung hasil pemasangan bantuan tersebut. Di dalam rumah telah terpasang tiga titik lampu dan satu stop kontak dengan daya listrik 900 watt. Kehadiran listrik membuat aktivitas keluarga menjadi lebih nyaman, terutama saat malam hari.
Kepada keluarga penerima manfaat, Ibas berpesan agar fasilitas yang diberikan dapat dirawat dengan baik. Ia berharap keberadaan listrik tidak hanya memberikan penerangan, tetapi juga membuka peluang bagi keluarga untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup.
Suasana pertemuan berlangsung hangat. Selain berbincang mengenai kondisi rumah, Ibas juga mendengarkan cerita keseharian keluarga Sukarni dan memberikan semangat agar tetap optimistis menghadapi berbagai tantangan.
Baca Juga:Â Rakyat Patungan Bangun Infrastruktur, Negara ke Mana? Fakta Ini Bikin Publik Bertanya
Ibas: Listrik Adalah Hak Dasar Seluruh Warga Negara
Dalam dialog bersama masyarakat, Ibas menegaskan bahwa akses listrik bukan sekadar fasilitas tambahan. Menurutnya, listrik merupakan kebutuhan dasar yang harus dapat dinikmati seluruh warga negara, termasuk mereka yang tinggal di wilayah terpencil.
Ia menilai negara memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan pelayanan yang merata tanpa membedakan lokasi tempat tinggal masyarakat. Karena itu, pemerataan akses listrik harus terus menjadi perhatian bersama.
Ibas juga menyampaikan apresiasi kepada PLN yang terus memperluas jaringan listrik hingga menjangkau daerah-daerah yang sebelumnya belum terlayani. Menurutnya, upaya tersebut merupakan bagian dari keadilan sosial yang harus terus dijaga agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara merata.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, PLN, dan masyarakat terus diperkuat sehingga semakin banyak keluarga yang dapat menikmati listrik sebagai penunjang aktivitas sehari-hari.
Masih Banyak Rumah Belum Layak Huni Jadi Perhatian
Di balik kebahagiaan melihat rumah warga mulai menikmati aliran listrik, Ibas mengaku prihatin setelah melihat masih banyak rumah dengan kondisi yang belum layak huni. Temuan tersebut membuat fokus kunjungannya tidak hanya tertuju pada program listrik, tetapi juga kebutuhan perbaikan tempat tinggal warga.
Ia kemudian mendorong perangkat desa agar aktif memperbarui data masyarakat yang membutuhkan bantuan. Data tersebut dinilai penting agar berbagai program pemerintah, termasuk Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau bedah rumah, dapat tepat sasaran.
Menurutnya, pembangunan di daerah tidak cukup hanya menghadirkan listrik. Perbaikan jalan, rumah layak huni, serta pelayanan dasar lainnya harus berjalan secara bersamaan agar kesejahteraan masyarakat meningkat.
Ibas juga menyampaikan komitmennya untuk terus mengawal program bantuan renovasi rumah bagi warga yang memenuhi syarat. Ia mengingatkan bahwa pada tahun sebelumnya ratusan rumah di Trenggalek telah berhasil mendapatkan dukungan melalui program pemerintah.
Harapan Agar Program Bantuan Menjangkau Lebih Banyak Warga
Selain memastikan kondisi penerima bantuan listrik, Ibas menyampaikan bahwa Sukarni telah tercatat dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Dengan status tersebut, keluarga memiliki peluang memperoleh bantuan sosial lain apabila memenuhi ketentuan yang berlaku.
Di Desa Salamwates sendiri, terdapat tujuh rumah lain yang juga menerima bantuan pemasangan listrik. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus mempercepat pemerataan layanan dasar di daerah.
Ibas berharap bantuan serupa terus diperluas sehingga tidak ada lagi keluarga yang hidup tanpa akses listrik. Ia juga meminta PLN tetap memberikan pelayanan terbaik karena pemerintah telah menyediakan anggaran untuk mendukung pemerataan elektrifikasi di berbagai wilayah Indonesia.
Menurutnya, pembangunan tidak boleh berhenti pada penyediaan listrik saja. Pemerintah juga perlu menyiapkan infrastruktur yang lebih baik dan mengembangkan energi terbarukan agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara berkelanjutan di masa depan.
Kunjungan ke pelosok Trenggalek menjadi gambaran bahwa pemerataan pembangunan masih membutuhkan perhatian bersama. Kehadiran listrik memang membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat, tetapi pekerjaan rumah lainnya seperti akses jalan, rumah layak huni, dan layanan sosial tetap harus menjadi prioritas agar seluruh warga dapat menikmati kehidupan yang lebih baik.