Miris Nasib Janda Penjual Kerupuk di Probolinggo, Jatuh Bangun Berjuang hingga Lepas dari Bansos

Miris Nasib Janda Penjual Kerupuk di Probolinggo, Jatuh Bangun Berjuang hingga Lepas dari Bansos Miris Nasib Janda Penjual Kerupuk di Probolinggo, Jatuh Bangun Berjuang hingga Lepas dari Bansos
Bagikan

Indri Diyah, janda penjual kerupuk di Probolinggo, berjuang menghidupi tiga anak dengan berjualan keliling menggunakan sepeda ontel setiap hari.

Miris Nasib Janda Penjual Kerupuk di Probolinggo, Jatuh Bangun Berjuang hingga Lepas dari Bansos

Setiap hari, Indri mengayuh sepeda menempuh jarak belasan hingga puluhan kilometer. Ia mendatangi sekolah, perkantoran, pasar, hingga sejumlah lokasi yang ramai didatangi warga. Rutinitas tersebut ia jalani demi memastikan kebutuhan keluarganya tetap terpenuhi. Simak ulasan lengkapnya dari NASIB RAKYAT.

NONTON GRATIS LIVE STREAMING STADIONLIVE NONTON GRATIS LIVE STREAMING SHOTSGOAL

Setiap Hari Mengayuh Sepeda Demi Tiga Anak

Indri tidak punya banyak pilihan untuk mencari nafkah. Dengan sepeda ontel, ia membawa dagangan kerupuk dan tisu lalu berkeliling menawarkan barang kepada calon pembeli. Perjalanan panjang menjadi bagian dari kesehariannya.

Cuaca panas maupun lelah tidak membuatnya berhenti begitu saja. Ia tetap mengayuh sepeda dari satu lokasi menuju lokasi berikutnya. Dari hasil jualan itulah Indri berusaha memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus membantu biaya kehidupan ketiga anaknya.

Perjuangan tersebut menggambarkan bagaimana seorang ibu harus bekerja keras ketika menjadi tumpuan keluarga. Sepeda yang ia gunakan bukan sekadar alat transportasi, tetapi juga menjadi sarana utama untuk mencari penghasilan.

POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL

🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal.

Download Aplikasi Shotsgoal - Live Streaming Piala Dunia 2026
📲 DOWNLOAD SEKARANG

Kerupuk dan Tisu Jadi Andalan untuk Bertahan

Indri memilih berjualan kerupuk dan tisu karena kedua barang tersebut relatif mudah dibawa menggunakan sepeda. Ia menawarkan dagangannya secara langsung kepada orang-orang yang ditemuinya selama berkeliling.

Target jualannya pun cukup beragam. Sekolah, kantor, dan pasar menjadi beberapa tempat yang ia datangi. Jarak perjalanan yang mencapai belasan hingga puluhan kilometer tentu membutuhkan tenaga ekstra.

Meski begitu, Indri terus menjalani aktivitas tersebut. Ia memahami bahwa penghasilan dari jualan menjadi sumber penting bagi keluarganya. Setiap dagangan yang terjual membantu menjaga kebutuhan sehari-hari tetap berjalan.

Baca Juga: PNM Salurkan Bantuan Rp26,8 Juta untuk Korban Bencana NTT dan NTB, Ini Sasarannya

Bansos Indri Kini Terhenti Gegara Desil Naik

Di tengah perjuangannya mencari nafkah, Indri menghadapi persoalan lain. Bantuan sosial yang sebelumnya ia terima kini terhenti setelah posisi desil dalam data kesejahteraannya mengalami kenaikan.

Kondisi ini menjadi perhatian karena kehidupan Indri masih jauh dari kata mudah. Ia tetap harus berjualan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan tiga anaknya. Berhentinya bansos membuat perjuangannya terasa semakin berat.

Desil menjadi salah satu dasar pemerintah dalam menentukan kondisi sosial ekonomi masyarakat untuk penyaluran berbagai program bantuan. Perubahan posisi desil dapat memengaruhi apakah seseorang masih masuk dalam sasaran penerima bantuan atau tidak.

Perjuangan Panjang di Balik Sepeda Ontelnya

Bagi Indri, mencari penghasilan bukan pekerjaan yang bisa dilakukan sesekali. Ia harus terus bergerak agar dagangannya laku. Sepeda ontel pun membawanya melewati berbagai ruas jalan demi menemukan pembeli.

Jarak belasan sampai puluhan kilometer setiap hari menunjukkan besarnya usaha yang ia keluarkan. Ia tidak hanya menjajakan barang, tetapi juga mempertaruhkan tenaga untuk memastikan keluarganya tetap memiliki pemasukan.

Kisah tersebut juga memperlihatkan sisi lain kehidupan masyarakat yang tetap berusaha mandiri meski menghadapi keterbatasan. Indri memilih terus bekerja daripada hanya mengandalkan bantuan yang pernah ia terima.

Harapan di Tengah Kerasnya Mencari Nafkah

Perjalanan Indri menjadi gambaran perjuangan seorang ibu yang ingin memberikan kehidupan lebih baik bagi anak-anaknya. Ia terus mengandalkan kemampuan sendiri dengan berjualan dari satu tempat ke tempat lain.

Terhentinya bansos tentu menjadi tantangan baru. Namun, aktivitas berjualan tetap menjadi pegangan Indri untuk mendapatkan pemasukan. Semangatnya mengayuh sepeda setiap hari menunjukkan bahwa kondisi sulit tidak serta-merta membuatnya menyerah.

Kisah Indri juga mengingatkan bahwa di balik kehidupan sehari-hari yang terlihat sederhana, ada perjuangan panjang yang mungkin tidak banyak diketahui orang. Sepeda ontel yang terus ia kayuh menjadi saksi bagaimana seorang ibu berusaha bertahan dan menjaga keluarganya.