Di Desa Sekumur, ribuan korban banjir masih menjalani puasa Ramadhan di tenda darurat setelah rumah mereka hancur diterjang banjir bandang.
Sudah berbulan-bulan berlalu, hunian sementara yang dijanjikan belum juga terwujud. Dengan fasilitas terbatas dan bantuan pangan yang minim, para penyintas bertahan penuh harap.
Simak informasi terbaru dan terviral tentang bencana alam yang terjadi yang akan kita bahas hanya ada di NASIB RAKYAT.
Ribuan Penyintas Sekumur Sambut Ramadhan di Tenda Darurat
Sebanyak 1.200 jiwa atau sekitar 260 kepala keluarga di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, mengawali Ramadhan 1447 Hijriah dalam kondisi memprihatinkan. Pada Kamis (19/2/2026), mereka masih bertahan di tenda-tenda darurat yang berdiri di atas puing-puing rumah yang telah hancur akibat banjir bandang.
Banjir bandang yang menerjang pada 26 November 2025 lalu meluluhlantakkan hampir seluruh bangunan di desa tersebut. Hingga kini, sebagian besar warga belum mendapatkan hunian sementara yang layak. Mereka terpaksa membangun tenda dari terpal dan bahan seadanya, sementara lainnya merakit kembali kayu-kayu sisa bangunan yang terseret arus deras.
Suasana Ramadhan yang seharusnya penuh suka cita berubah menjadi keprihatinan mendalam. Di tengah keterbatasan, para penyintas tetap berusaha menjalani ibadah puasa dengan sabar. Anak-anak, lansia, hingga ibu hamil bertahan dalam kondisi minim fasilitas, berharap adanya kepastian tempat tinggal yang lebih layak dalam waktu dekat.
Huntara yang Dinanti, Tak Kunjung Hadir
Hingga memasuki bulan suci, pembangunan hunian sementara (Huntara) belum juga terealisasi. Warga mengaku belum mendapatkan informasi yang jelas mengenai rencana pembangunan tempat tinggal sementara tersebut. Ketidakpastian ini menambah beban psikologis para penyintas yang sudah berbulan-bulan hidup dalam keterbatasan.
“Sampai detik ini pun kami tidak tahu di mana bentuk Huntara untuk Desa Sekumur ini. Belum ada pembangunan sama sekali, padahal ini desa hancur seluruhnya,” ujar Wahyu Rahmah, salah seorang penyintas, saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Kondisi tersebut membuat warga terpaksa bertahan dengan solusi darurat. Mereka mendirikan tenda di atas lahan bekas rumah masing-masing sebagai bentuk ikhtiar agar tetap dekat dengan tanah kelahiran mereka. Meski penuh risiko dan jauh dari standar kelayakan, pilihan itu menjadi satu-satunya cara untuk tetap bertahan.
Baca Juga: Gunungkidul Bangkit, Upaya Pemulihan Pascabanjir Bandang Dan Longsor
Masjid, Satu-Satunya Bangunan Yang Tersisa
Dari seluruh bangunan di desa, hanya masjid dan dua unit rumah warga yang masih berdiri. Selebihnya, rata dengan tanah dihantam derasnya banjir bandang. Masjid kini menjadi pusat aktivitas warga, bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga sebagai tempat berkumpul dan menguatkan satu sama lain.
“Shalat tarawih masjid kami bisa digunakan. Hanya masjid satu-satunya yang utuh di desa kami saat banjir 26 November 2025 lalu. Selebihnya rata dengan tanah seluruhnya,” tutur Wahyu Rahmah yang akrab disapa Wara.
Di masjid itulah warga melaksanakan salat tarawih dan berbagai kegiatan keagamaan selama Ramadhan. Bangunan tersebut menjadi simbol harapan di tengah kehancuran. Meski fasilitas terbatas, semangat kebersamaan dan solidaritas warga tetap terjaga.
Minim Bantuan, Warga Andalkan Relawan
Selain persoalan hunian, warga juga menghadapi keterbatasan bahan pangan. Bantuan dari pemerintah dinilai belum mencukupi kebutuhan ratusan keluarga yang masih berada di pengungsian. Selama ini, pasokan makanan lebih banyak bergantung pada relawan yang datang menjangkau wilayah pedalaman tersebut.
Sekretaris Desa Sekumur, M Saiful Juari, membenarkan bahwa ribuan warganya masih bertahan dalam kondisi serba kekurangan. Ia menyebut desanya sebagai salah satu wilayah terdampak paling parah akibat bencana tersebut dan membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.
“Semoga pemerintah segera membangun hunian sementara, termasuk memenuhi seluruh kebutuhan bahan pangan selama Ramadhan ini untuk pengungsi,” ujar Saiful. Ia berharap ada langkah konkret dan cepat agar warganya dapat menjalani bulan suci dengan lebih tenang, tanpa dihantui kekhawatiran akan tempat tinggal dan kebutuhan dasar sehari-hari.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari regional.kompas.com
- Gambar Kedua dari jabarstyle.com