Update Terkini Data Korban Banjir Sumatera: 867 Orang Meninggal, 521 Orang Hilang, dan 849.193 Mengungsi

Update Terkini Data Korban Banjir Sumatera: 867 Orang Meninggal, 521 Orang Hilang, dan 849.193 Mengungsi
Bagikan

Laporan terbaru data korban banjir Sumatera BNPB menunjukkan besarnya dampak banjir dan longsor di Sumatera yang terjadi sejak akhir November 2025.

Update-Data-Korban-Banjir-Sumatera

Dibawah ini, NASIB RAKYAT memberikan info update data korban banjir sumatera, kondisi pengungsian, penyebab bencana, serta analisis para ahli mengenai kerusakan lingkungan yang memperparah banjir bandang.

Update Data Terkini

BNPB mengumumkan bahwa total korban meninggal mencapai 867 orang, meningkat 91 orang dibandingkan data sebelumnya pada 4 Desember yang mencatat 776 korban tewas.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa distribusi korban meninggal meliputi 312 orang di Sumatera Utara, 345 orang di Aceh, dan 210 orang di Sumatera Barat.

Selain itu, 521 orang masih dinyatakan hilang, terdiri dari 133 orang di Sumatera Utara, 174 orang di Aceh, dan 214 orang di Sumatera Barat. Angka-angka ini menegaskan skala bencana yang sangat besar dan membutuhkan penanganan cepat.

Ayo bergabung di chanel whatsapp Nasibrakyat, dapatkan informasi terkini lebih cepat

Gelombang Pengungsian, 849.193 Warga Terpaksa Tinggalkan Rumah

Selain banyaknya korban jiwa, jumlah warga yang mengungsi juga sangat besar. BNPB merinci bahwa di Sumatera Utara terdapat 51.443 pengungsi, sementara Aceh mencatat angka yang sangat tinggi yaitu 775.342 jiwa. Di Sumatera Barat, sebanyak 22.354 jiwa telah meninggalkan tempat tinggal mereka.

Secara total, 849.193 orang kini berada di berbagai posko pengungsian. Kondisi ini membuat kebutuhan logistik seperti makanan, air bersih, obat-obatan, hingga tempat tinggal sementara menjadi sangat mendesak. Penanganan cepat dari pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan partisipasi publik sangat dibutuhkan untuk mengurangi dampak lanjutan dari bencana ini.

Baca Juga:

Mengapa Banjir Kali Ini Begitu Parah?

Menurut Ketua Program Studi Meteorologi ITB, Muhammad Rais Abdillah, banjir bandang kali ini bukan hanya dipicu oleh curah hujan ekstrem. Ada tiga faktor utama yang saling berinteraksi:

  • Atmosfer yang sangat aktif pada puncak musim hujan di Sumatera bagian utara.
  • Kerusakan lingkungan, terutama berkurangnya vegetasi yang memengaruhi daya serap tanah.
  • Kapasitas tampung wilayah yang melemah, membuat air hujan tak mampu ditahan secara alami.

Pada 24 November, terpantau adanya pusaran angin dari Semenanjung Malaysia yang berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka. Meski tidak sekuat siklon di Samudra Hindia, fenomena ini meningkatkan suplai uap air, memperkuat pembentukan awan hujan, dan memperluas area presipitasi. Beberapa stasiun BMKG mencatat curah hujan harian mencapai 300 milimeter, mendekati level banjir besar Jakarta tahun 2020.

Ulasan Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB

Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Heri Andreas, menegaskan bahwa parahnya dampak banjir bukan hanya dipicu oleh hujan ekstrem. Perubahan fungsi lahan, alih fungsi hutan, serta menurunnya kapasitas penyerapan tanah membuat wilayah rentan terhadap limpasan air.

Menurutnya, kawasan berhutan memiliki kemampuan infiltrasi yang tinggi. Ketika berubah menjadi permukiman atau perkebunan intensif, kemampuan tersebut hilang, sehingga air hujan langsung mengalir ke sungai dan memicu banjir bandang.

Terima kasih atas waktunya, semoga informasi ini bisa membantu Anda dan siap menghadapi situasi apa pun. Kunjungi kami lagi untuk terus mendapatkan kabar viral dan update terkini lainnya di NASIB RAKYAT.


Sumber informasi gambar dari nasibrakyat.com.