Demi Air Bersih, Warga Bener Meriah Bertaruh Nyawa di Sungai Deras

Meriah Bertaruh Nyawa di Sungai Deras Meriah Bertaruh Nyawa di Sungai Deras
Bagikan

Warga Bener Meriah mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan air bersih dengan memasang sling di tengah derasnya arus sungai.

Meriah Bertaruh Nyawa di Sungai Deras

Hujan ekstrem membuat debit air meningkat dan proses pemasangan pipa darurat penuh risiko. Dengan peralatan seadanya dan bantuan relawan, masyarakat bergotong royong menembus bahaya demi memenuhi kebutuhan dasar 10 kampung yang terdampak banjir bandang.

Simak informasi terbaru dan terviral tentang bencana alam yang terjadi yang akan kita bahas hanya ada di NASIB RAKYAT.

nonton gratis piala dunia 2026 STADIONLIVE LIVE STREAMING WORLD CUP 2026

Demi Setetes Air, Warga Syiah Utama Bertaruh Nyawa

Masyarakat di Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, harus mempertaruhkan keselamatan demi mendapatkan akses air bersih. Di tengah derasnya arus Sungai Samar Kilang, warga bersama relawan bergotong royong memasang tiang sementara dan kawat sling sebagai penyangga pipa air bersih, Jumat (6/2/2026).

Kecamatan yang berada di wilayah terluar Kabupaten Bener Meriah ini memiliki 10 kampung yang masih kesulitan air bersih pascabencana banjir bandang. Kampung-kampung tersebut antara lain Kutelah Lane, Uning, Goneng, Rata Mulie, Payung, Belang Panu, Kerlang, Gerpa, Tempen Baru, dan Geruti Jaya.

Upaya pemasangan pipa darurat ini menjadi harapan baru bagi masyarakat. Meski dilakukan dengan peralatan seadanya, semangat gotong royong terlihat begitu kuat. Warga sadar bahwa tanpa inisiatif bersama, krisis air bersih akan terus membayangi kehidupan sehari-hari mereka.

Diterjang Arus Deras, Keselamatan Warga di Ujung Tanduk

Proses pemasangan kawat sling dilakukan tepat di atas Sungai Samar Kilang yang dikenal memiliki arus sangat deras. Dalam beberapa hari terakhir, hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut sehingga debit air meningkat drastis. Kondisi ini membuat pekerjaan semakin berbahaya dan menuntut kewaspadaan ekstra dari seluruh warga yang terlibat.

Untuk menyeberangkan kawat sling, warga terpaksa menggunakan perahu dan boat tradisional di atas permukaan sungai yang bergejolak. Setiap langkah harus diperhitungkan secara matang agar tidak terseret arus. Risiko terpeleset atau terjatuh ke sungai menjadi ancaman nyata selama proses pemasangan berlangsung.

“Sudah dua hari hujan deras, volume air sungai meningkat. Kalau tidak hati-hati, nyawa taruhannya,” ungkap Imam Lane, salah seorang pemuda setempat. Pernyataan tersebut menggambarkan betapa genting situasi yang mereka hadapi demi memastikan pasokan air.

Baca Juga: Warga Karangasem Terdampak Longsor Dan Banjir, Hujan Masih Mengguyur

Swadaya Warga dan Uluran Tangan Relawan Jadi Andalan

Swadaya Warga dan Uluran Tangan Relawan Jadi Andalan

Karena sifatnya darurat, warga memanfaatkan material yang masih bisa digunakan. Pipa-pipa lama yang terkubur atau selamat dari terjangan banjir bandang digali kembali untuk dipasang ulang. Langkah ini dilakukan untuk menekan biaya sekaligus mempercepat proses perbaikan jaringan air bersih.

Selain swadaya masyarakat, bantuan juga datang dari sejumlah relawan. Forum Konservasi Leuser (FKL) dan Relawan Sahabat Kemanusiaan turut membantu menyediakan perlengkapan teknis seperti kawat sling dan peralatan pendukung lainnya. Kolaborasi ini menjadi bukti solidaritas yang tumbuh di tengah kondisi sulit.

“Karena sifatnya darurat, sementara kami pakai material seadanya. Pipa-pipa bekas yang tidak hanyut kami pakai lagi. Alhamdulillah ada juga kawan-kawan relawan yang membantu,” kata Imam. Ia berharap ke depan akan ada pembangunan instalasi yang lebih permanen dan layak agar bencana serupa tidak kembali melumpuhkan akses air bersih.

Harapan Tuntas Sebelum Ramadhan

Imam dan warga lainnya berharap pemasangan pipa darurat dapat rampung sebelum memasuki bulan Ramadhan. Selama jaringan pipa rusak, masyarakat harus menempuh jarak hingga lima kilometer untuk mendapatkan air bersih dari sumber mata air terdekat. Kondisi ini tentu sangat melelahkan dan menyita waktu.

Setiap hari, warga mengangkut air menggunakan jerigen yang dibawa dengan sepeda motor maupun mobil. Tak hanya itu, mereka juga harus mengantre karena debit air dari pipa kecil yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan seluruh warga dari 10 kampung tersebut. Situasi ini kerap memicu antrean panjang, terutama pada pagi dan sore hari.

Jangan lewatkan kabar terbaru dan paling ramai dibicarakan tentang penebangan hutan eksklusif di NASIB RAKYAT.


Sumber Informasi Gambar:

  1. Gambar Utama dari regional.kompas.com
  2. Gambar Kedua dari suaraindonesia.online