Zulhas menyoroti kondisi petani yang kian memprihatinkan, banyak kehilangan lahan hingga kini hanya bekerja sebagai buruh tani di tanah orang lain.
Perubahan ini terjadi perlahan, tetapi dampaknya terasa besar di pedesaan. Banyak keluarga petani kehilangan aset utama mereka karena tekanan ekonomi yang terus berulang. Saat biaya hidup naik sementara hasil panen tidak stabil, sebagian petani memilih menjual sawah mereka. Akibatnya, mereka tidak lagi mengelola lahan sendiri dan hanya mengandalkan upah harian. Kondisi ini membuat posisi petani semakin rentan dalam rantai produksi pangan nasional. Simak ulasan lengkapnya dari NASIB RAKYAT.
Perbandingan Produksi Pangan Dulu dan Sekarang
Zulhas menyinggung masa lalu ketika Indonesia masih mampu memenuhi kebutuhan pangan tanpa ketergantungan impor besar. Ia membandingkan kondisi saat ini dengan era sebelumnya, di mana produksi dalam negeri lebih dominan. Kini, berbagai komoditas seperti beras, gula, hingga kedelai justru banyak didatangkan dari luar negeri.
Perubahan ini menunjukkan adanya tantangan besar dalam sistem pertanian nasional. Di satu sisi, kebutuhan masyarakat terus meningkat, tetapi di sisi lain kapasitas produksi petani lokal tidak ikut naik secara seimbang. Ketergantungan pada impor membuat posisi petani dalam negeri semakin tertekan karena harga pasar ikut dipengaruhi produk luar.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Tekanan Harga Gabah yang Membebani Petani
Salah satu masalah utama yang disorot adalah harga gabah di tingkat petani. Pemerintah memang menetapkan batas harga dan standar kualitas, namun di lapangan banyak petani merasa dirugikan. Saat kadar air tidak sesuai standar, harga gabah bisa turun jauh di bawah harapan. Dalam beberapa kasus, petani hanya menerima harga sekitar empat ribu rupiah per kilogram.
Kondisi ini membuat margin keuntungan semakin kecil, bahkan sering tidak cukup untuk menutup biaya produksi. Petani tidak punya banyak pilihan selain menjual hasil panen dengan harga yang sudah ditentukan pasar. Situasi ini memperlihatkan ketidakseimbangan posisi tawar antara petani dan pembeli.
Baca Juga:Â Pedagang Keliling Surabaya Menjerit! Titip Pesan Menohok ke Prabowo: Tolong Lihat Nasib Rakyat Kecil
Suara dari Desa: Sawah yang Terjual dan Harapan yang Menipis
Di banyak daerah, cerita petani yang kehilangan lahan bukan lagi hal baru. Mereka menjual sawah untuk menutup kebutuhan sehari-hari atau membayar utang yang terus menumpuk. Setelah lahan terjual, mereka tetap bertahan di sektor pertanian, tetapi hanya sebagai pekerja di lahan milik orang lain.
Pendapatan mereka pun turun drastis dibanding saat masih memiliki lahan sendiri. Situasi ini membuat banyak keluarga petani kesulitan meningkatkan taraf hidup. Meski begitu, sebagian masih berharap ada perubahan kebijakan yang bisa mengembalikan posisi mereka sebagai pemilik lahan produktif, bukan sekadar pekerja harian.
Janji Pemerintah untuk Memperkuat Sektor Pertanian
Zulhas menegaskan pemerintah akan berupaya memperbaiki kondisi petani dan nelayan. Ia menyebut dirinya berasal dari keluarga petani sehingga memahami langsung tantangan di lapangan. Pemerintah, menurutnya, ingin mengembalikan semangat kemandirian pangan sesuai cita-cita pembangunan nasional.
Presiden juga disebut mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada petani. Meski menjaga inflasi tetap penting, kebijakan ke depan diharapkan tidak lagi menempatkan petani sebagai pihak yang paling dirugikan. Pemerintah berencana mencari cara baru agar stabilitas harga tetap terjaga tanpa menekan kesejahteraan petani.