Aksi bertajuk Rakyat Surabaya Menggugat yang berlangsung di Taman Apsari, tepat di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada Senin (15/6/2026), menjadi ruang bagi berbagai kalangan untuk menyampaikan aspirasi.
Mahasiswa, buruh, pengemudi ojek online, hingga pedagang keliling berkumpul dengan satu tujuan, yakni menyuarakan keresahan yang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Sejak sore hari, peserta mulai memadati lokasi sambil membawa spanduk dan poster berisi tuntutan. Mereka bergantian menyampaikan orasi yang menyoroti berbagai persoalan ekonomi dan kebijakan pemerintah. Di antara kerumunan itu, suara pedagang keliling justru paling menyita perhatian karena menggambarkan langsung beratnya perjuangan mencari nafkah.
Pedagang Lumpia Curhat, Cari Rp100 Ribu Kini Makin Sulit
Salah satu peserta aksi, Nyono, pedagang lumpia keliling berusia 56 tahun, mengaku kondisi ekonomi saat ini membuat pekerjaannya semakin berat. Menurutnya, memperoleh penghasilan sebesar Rp100 ribu dalam sehari bukan lagi perkara mudah.
“Nyari uang Rp100 ribu susah banget. Sehat-sehat ya Allah, semoga Prabowo mengerti nasibnya masyarakat kecil,” ucap Nyono di sela-sela aksi.
Pernyataan tersebut langsung mendapat perhatian dari peserta lain. Banyak orang menilai ucapan itu mewakili keresahan pedagang kecil yang setiap hari harus berjualan dari satu tempat ke tempat lain demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Nyono berharap pemerintah memberi perhatian lebih kepada masyarakat kecil yang menggantungkan hidup dari usaha sederhana. Baginya, kondisi ekonomi yang stabil akan membantu pedagang memperoleh pembeli dan menjaga penghasilan tetap berjalan.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Program Pemerintah dan Harga Kebutuhan Jadi Sorotan
Selain mengeluhkan sulitnya mencari penghasilan, Nyono juga menyinggung sejumlah program pemerintah yang menurutnya belum memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan pedagang kecil. Ia menyoroti program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang belakangan ramai menjadi pembahasan publik.
Menurut Nyono, berbagai persoalan yang muncul di sekitar program tersebut membuat masyarakat kecil semakin kecewa. Ia berharap pemerintah lebih fokus pada langkah yang benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Keluhan serupa datang dari Ika Wijayanti, pedagang kopi keliling yang sehari-hari berjualan di sekitar kawasan aksi. Ika mengaku harga kebutuhan pokok yang terus tinggi membuat pengeluaran rumah tangga semakin berat.
“Jangan naikkan harga, tolong, lihat orang-orang, pedagang kecil seperti saya. Tolong turunkan semua, enggak cuma BBM, tapi juga sembako, cabai,” ujarnya.
Menurut Ika, penurunan harga kebutuhan pokok akan memberikan ruang bagi masyarakat kecil untuk bertahan. Ketika harga barang lebih terjangkau, daya beli masyarakat juga berpeluang meningkat sehingga pedagang kecil bisa ikut merasakan dampaknya.
Baca Juga:Â Harapan Pekerja Pupus? Pajak Pencairan JHT Ternyata Belum Bisa Dihapus, Ini Penyebabnya
Delapan Tuntutan Disampaikan dalam Aksi
Koordinator Lapangan Aksi Kamisan Surabaya, Muhammad Ikhsan Aditya, menjelaskan bahwa aksi tersebut menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka. Ia berharap gerakan serupa dapat terus berlanjut dengan partisipasi masyarakat yang lebih luas.
Dalam aksi tersebut, massa membawa delapan tuntutan utama. Mereka meminta pencabutan UU Polri 2026, pencabutan UU TNI 2025, serta mengembalikan militer ke barak. Selain itu, peserta juga meminta penghentian program Makan Bergizi Gratis dan program Koperasi Desa Merah Putih.
Tuntutan lainnya berfokus pada kondisi ekonomi masyarakat. Massa meminta pemerintah menurunkan harga BBM, menjaga stabilitas nilai rupiah, dan menghentikan eksploitasi sumber daya alam yang mereka nilai belum memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat kecil.
Harapan Pedagang Kecil untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Bagi pedagang keliling, aksi tersebut bukan sekadar unjuk rasa, tetapi juga kesempatan menyampaikan harapan secara langsung kepada pemerintah. Mereka ingin suara masyarakat kecil mendapat perhatian dalam setiap pengambilan kebijakan.
Para pedagang berharap pemerintah mampu menciptakan kondisi ekonomi yang lebih stabil, menjaga harga kebutuhan pokok tetap terkendali, dan membuka peluang usaha yang lebih baik. Mereka percaya langkah tersebut dapat membantu masyarakat memperoleh penghasilan yang lebih layak.
Aksi di Surabaya memperlihatkan bahwa persoalan ekonomi masih menjadi perhatian utama banyak warga. Keluhan yang disampaikan para pedagang menggambarkan tantangan yang mereka hadapi setiap hari, mulai dari sulitnya mencari pembeli hingga tingginya harga kebutuhan pokok.
Melalui aksi damai tersebut, mereka berharap aspirasi yang disampaikan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan yang lebih berpihak kepada masyarakat kecil.