Miris! Pengungsi Gempa Nagekeo Bertahan di Tenda Terpal, Bantuan Tak Kunjung Datang

Miris! Pengungsi Gempa Nagekeo Bertahan di Tenda Terpal, Bantuan Tak Kunjung Datang Miris! Pengungsi Gempa Nagekeo Bertahan di Tenda Terpal, Bantuan Tak Kunjung Datang
Bagikan

Sejumlah warga Nagekeo, NTT, masih bertahan di tenda terpal setelah gempa mengguncang pada 15 Agustus 2026 karena takut kembali ke rumah yang rusak.

Miris! Pengungsi Gempa Nagekeo Bertahan di Tenda Terpal, Bantuan Tak Kunjung Datang

Warga kemudian mendirikan tenda darurat secara mandiri di sekitar pekarangan rumah. Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-hari berubah drastis. Mereka harus tidur dan berkumpul dalam ruang terbatas sambil terus waspada terhadap gempa susulan. Simak ulasan lengkapnya dari NASIB RAKYAT.

NONTON GRATIS LIVE STREAMING STADIONLIVE NONTON GRATIS LIVE STREAMING SHOTSGOAL

Warga Pilih Mengungsi di Luar Rumah

Salah satu warga, Yohanes Rafael Dhae alias Jordan, mengatakan dirinya bersama keluarga masih berada di luar rumah sejak gempa pertama terjadi. Mereka menggunakan terpal seadanya untuk membuat tempat berlindung.

“Kondisi saya dan keluarga aman. Kami masih mengungsi di luar rumah dengan mendirikan tenda darurat menggunakan terpal sejak kejadian gempa,” ujar Jordan saat dihubungi pada Senin (17/8/2026).

Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Warga masih merasakan guncangan hampir setiap hari. Kondisi rumah yang mengalami keretakan juga membuat mereka memilih tidak kembali tidur di dalam bangunan.

POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL

🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal.

Download Aplikasi Shotsgoal - Live Streaming Piala Dunia 2026
📲 DOWNLOAD SEKARANG

Belum Terima Bantuan Sejak Hari Pertama

Jordan mengaku warga yang mengungsi secara mandiri belum menerima bantuan sejak hari pertama. Mereka tidak mendapatkan kebutuhan dasar seperti makanan, minuman, obat-obatan, kain maupun pakaian layak pakai.

Warga juga belum memperoleh tenda darurat dari pemerintah. Karena kebutuhan mendesak, mereka mencari terpal sendiri dan menggunakannya sebagai tempat berteduh.

“Kalau untuk bantuan sejak hari pertama, itu sama sekali belum ada. Kami masih mengungsi di luar rumah karena masih ada guncangan gempa secara terus-menerus ini,” kata Jordan.

Kondisi tersebut membuat warga harus mengandalkan persediaan yang mereka miliki. Ketika stok mulai menipis, mereka meminta bantuan kepada warga lain yang masih memiliki bahan makanan.

Baca Juga: Pakar ITS Bongkar Potensi Tsunami Gempa M 7,7 NTT, Jawa-Bali Bisa Terdampak?

Lima Sampai Enam KK Berdesakan dalam Satu Tenda

Keterbatasan terpal membuat sejumlah keluarga harus berbagi satu tenda. Jordan menyebut lima hingga enam kepala keluarga bahkan bertahan dalam satu tenda yang sama.

Situasi tersebut tentu membuat ruang untuk beristirahat menjadi sangat terbatas. Warga harus berbagi tempat sambil tetap menjaga barang dan kebutuhan keluarga masing-masing.

“Kami mengungsi satu tenda sampai lima atau enam KK, tanpa ada bantuan,” ujar Jordan.

Warga baru mendapatkan pendataan dari seorang Babinsa pada Minggu (16/8/2026). Mereka berharap pendataan tersebut segera berlanjut dengan penanganan nyata, terutama untuk kebutuhan pangan dan tempat tinggal sementara.

Warga Terpaksa Meminta Makanan

Persoalan paling terasa bagi pengungsi adalah kebutuhan pokok. Beras, sayuran, minyak goreng dan bahan makanan lainnya tidak selalu tersedia di tengah kondisi darurat.

Warga akhirnya meminta makanan kepada tetangga atau masyarakat sekitar yang memiliki stok lebih. Cara tersebut mereka lakukan agar keluarga tetap bisa makan sambil menunggu bantuan.

“Makanan saja kami minta-minta baru bisa makan. Rumah kami retak dan ada yang hancur, jadi kami takut. Kalau untuk air minum, itu di sini aman,” tutur Jordan.

Meski persediaan air minum masih aman, kebutuhan lainnya tetap menjadi persoalan. Warga berharap bantuan sembako segera datang sehingga mereka tidak terus bergantung pada bantuan antarwarga.

Gempa Susulan Bikin Warga Terus Panik

Ketakutan warga semakin besar karena gempa susulan masih terjadi. Jordan mengatakan guncangan dapat muncul dalam jarak waktu sekitar 30 menit. Setiap kali merasakan getaran, warga langsung keluar dan mencari lokasi yang dianggap lebih aman.

“Kami berlarian semua karena panik dan takut,” imbuh Jordan.

Ketua RT 05 Desa Natatoto, Frederikus Belo, mengatakan sekitar 24 kepala keluarga di wilayahnya memilih mengungsi secara mandiri di luar rumah. Mereka melakukan hal tersebut karena khawatir gempa susulan kembali merusak bangunan.

Frederikus berharap pemerintah segera memberikan bantuan, terutama kebutuhan pangan untuk warga yang masih bertahan di tenda.

“Kami ada 24 KK, mengungsi di luar rumah. Kami sangat membutuhkan sembako. Tolong bantu suarakan agar kami bisa dapat bantuan,” pinta Frederikus.

Di tengah situasi yang belum sepenuhnya aman, warga kini hanya bisa bertahan dengan perlengkapan seadanya. Mereka berharap bantuan segera tiba agar kebutuhan dasar keluarga terpenuhi dan proses penanganan pascagempa dapat berjalan lebih cepat.