Jeritan Warga Jakarta! Uang Rp65 Ribu untuk Pertamax Cuma Jadi 4 Liter, Ini Keluhannya

Jeritan Warga Jakarta! Uang Rp65 Ribu untuk Pertamax Cuma Jadi 4 Liter, Ini Keluhannya Jeritan Warga Jakarta! Uang Rp65 Ribu untuk Pertamax Cuma Jadi 4 Liter, Ini Keluhannya
Bagikan

Pemotor Jakarta mengeluhkan harga Pertamax yang naik hingga membuat biaya harian membengkak, warga berharap BBM RON 92 kembali mengalami penyesuaian harga.

Jeritan Warga Jakarta! Uang Rp65 Ribu untuk Pertamax Cuma Jadi 4 Liter, Ini Keluhannya

Salah satu pengendara yang merasakan dampaknya adalah Awan Setiawan (34), pengguna motor matik 155 cc asal Cengkareng, Jakarta Barat. Ia mengaku mulai merasakan tekanan sejak harga Pertamax berada di angka Rp16.250 per liter.

NONTON GRATIS LIVE STREAMING STADIONLIVE NONTON GRATIS LIVE STREAMING SHOTSGOAL

Pemotor Jakarta Berharap Harga Pertamax Turun di Bulan Kemerdekaan

Awan berharap pemerintah dan pihak terkait bisa melakukan penyesuaian harga Pertamax pada Agustus 2026. Menurutnya, perubahan harga BBM pada awal bulan sering menjadi momen yang ditunggu oleh para pengguna kendaraan.

“Berharap awal bulan Agustus besok harga Pertamax turun karena biasanya kan awal bulan selalu ada penyesuaian harga BBM,” ujar Awan saat berbincang dengan TribunJakarta.com.

Dengan nada bercanda, Awan menyebut penurunan harga Pertamax bisa menjadi hadiah spesial bagi masyarakat menjelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia. Baginya, harga BBM yang lebih terjangkau tentu akan membantu banyak warga yang setiap hari mengandalkan kendaraan pribadi untuk bekerja.

POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL

🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal.

Download Aplikasi Shotsgoal - Live Streaming Piala Dunia 2026
📲 DOWNLOAD SEKARANG

Rp65 Ribu Kini Hanya Dapat 4 Liter Pertamax

Awan mengungkapkan kenaikan harga Pertamax dalam beberapa bulan terakhir cukup memengaruhi pengeluaran transportasinya. Ia harus mengatur ulang anggaran harian karena biaya pengisian BBM semakin besar dibanding sebelumnya.

Menurut Awan, saat ini uang Rp65 ribu hanya mampu membeli sekitar 4 liter Pertamax. Jumlah tersebut hanya cukup untuk menunjang aktivitas hariannya selama kurang lebih tiga hari.

Kondisi tersebut terasa berbeda ketika harga Pertamax masih berada di level Rp12.300 per liter. Saat itu, Awan bisa mendapatkan jumlah bahan bakar lebih banyak dengan uang yang lebih sedikit.

“Dulu waktu belum naik, Rp50 ribu sudah dapat 4,6 liter. Sekarang Rp65 ribu cuma dapat 4 liter. Kacau,” ungkap Awan.

Baca Juga: Siap-Siap! Mendagri Dorong Integrasi E-Government, Sistem Penyaluran Bansos Akan Berubah

Motor Tetap Aman, Tapi Pengeluaran Harian Makin Berat

Kenaikan biaya BBM membuat Awan harus lebih memperhatikan pengeluaran sehari-hari. Ia mengatakan kondisi motornya tetap baik meskipun biaya operasional kendaraan semakin meningkat.

Awan bahkan melontarkan candaan bahwa kenaikan harga Pertamax tidak membuat motornya mengalami masalah, tetapi justru membuat kondisi dompetnya semakin terkuras.

“Motor sih enggak rusak, tapi dompet yang rusak,” kata Awan sambil bercanda.

Bagi pekerja yang menggunakan kendaraan setiap hari, perubahan harga BBM memang memberikan dampak langsung. Selisih beberapa ribu rupiah per liter bisa terasa besar ketika seseorang harus mengisi bahan bakar secara rutin dalam sebulan.

Sebagian Pemotor Mulai Beralih ke Pertalite Meski Harus Antre

Tidak semua pengendara tetap bertahan menggunakan Pertamax. Andi Ramdan (32) memilih beralih ke Pertalite karena ingin menekan biaya perjalanan sehari-hari.

Meski begitu, Andi harus menghadapi tantangan lain karena antrean Pertalite di sejumlah SPBU cukup panjang. Ia mengaku sering menemukan antrean bahkan pada malam hari.

“Sekarang sudah pakai Pertalite, tapi memang harus sabar antre. Mau jam berapa pun kalau Pertalite selalu antre, bahkan tengah malam juga antre,” ujar Andi.

Karena tidak ingin terlalu sering menghabiskan waktu di SPBU, Andi selalu mengisi tangki motornya hingga penuh. Cara tersebut ia lakukan agar tidak perlu kembali mengantre dalam waktu dekat.

Antrean Panjang dan Aturan Pembelian Jadi Tantangan Baru

Selain menghadapi antrean, Andi juga pernah mengalami kejadian unik saat mengisi Pertalite. Petugas SPBU sempat membatasi pembeliannya karena ukuran tangki motor miliknya cukup besar.

Petugas menduga Andi membeli BBM untuk dijual kembali sebagai bensin eceran. Padahal, ia menjelaskan bahwa bahan bakar tersebut hanya ia gunakan untuk kebutuhan kerja sehari-hari.

“Saya pernah mau isi full tapi tidak boleh petugasnya. Maksimal cuma Rp70 ribu karena saya dikira tukang bensin eceran. Padahal buat dipakai sendiri kerja,” kata Andi.

Keluhan Awan dan Andi menggambarkan kondisi sebagian pengendara Jakarta yang harus menyesuaikan pengeluaran akibat perubahan harga BBM. Bagi mereka, penurunan harga bahan bakar bisa menjadi angin segar agar biaya transportasi harian kembali lebih ringan.