Kebakaran melanda Kampung Adat Ciptamulya, Sukabumi, menghanguskan puluhan rumah panggung dan meninggalkan luka mendalam bagi warga pada Sabtu (25/7/2026).
Di tengah puing-puing yang tersisa, warga perlahan mulai menata kembali kehidupan. Mereka tidak hanya menghadapi kehilangan tempat tinggal dan harta benda, tetapi juga berusaha mengatasi rasa takut yang muncul setelah kejadian tersebut. Simak ulasan lengkapnya dari NASIB RAKYAT.
Masa Awal Kebakaran Jadi Periode Terberat
Ketua Kasepuhan Adat Ciptamulya, Abah Hendrik Suhendrik Wijaya, mengakui masa-masa awal setelah kebakaran terasa sangat berat. Rasa syok dan kebingungan sempat menyelimuti warga selama beberapa hari.
Menurut Abah Hendrik, kondisi tersebut juga ia rasakan secara langsung. Selama dua hingga tiga hari pertama, bahkan sampai satu minggu, warga masih berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.
Situasi perlahan berubah ketika warga mulai menerima keadaan. Mereka memilih tidak terus larut dalam kesedihan dan mencoba melihat musibah tersebut sebagai bagian dari perjalanan hidup yang harus mereka jalani.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Keyakinan dan Kebersamaan Bantu Warga Bangkit
Warga Kasepuhan Ciptamulya memiliki cara sendiri dalam menghadapi trauma. Nilai kepasrahan dan kesadaran spiritual menjadi salah satu pegangan mereka untuk menerima musibah tanpa kehilangan semangat menjalani kehidupan.
Abah Hendrik terus mengingatkan warga agar tidak menghadapi persoalan seorang diri. Ia mengajak masyarakat untuk menanggung beban bersama sambil memikirkan langkah selanjutnya.
Rasa kekeluargaan yang kuat juga membuat proses pemulihan berjalan lebih cepat. Warga yang kehilangan rumah bisa tinggal sementara di rumah kerabat atau tetangga adat yang selamat dari kebakaran.
Baca Juga:Â BPS Ungkap Wilayah dengan Penduduk Miskin Terbanyak dan Paling Sedikit di Indonesia
Rumah Kerabat dan Tenda Jadi Tempat Berlindung
Setelah kebakaran, masyarakat bersama pemerintah bergerak menyediakan tempat tinggal sementara. Sebagian korban menempati rumah kerabat dan warga sekitar, sedangkan warga lainnya tinggal di tenda darurat yang pemerintah daerah dan BPBD dirikan.
Keberadaan tempat untuk berlindung memberikan rasa aman bagi warga. Mereka tidak harus menghadapi malam dalam ketidakpastian karena kebutuhan dasar mulai mendapat perhatian.
Komunikasi antara Abah, para pemangku adat atau Pegawai Tujuh, serta kepala desa yang dikenal sebagai Jaro juga terus berjalan. Koordinasi tersebut membantu warga mendapatkan informasi yang jelas sekaligus mengurangi kepanikan.
Bantuan dari Banyak Pihak Jadi Penguat Mental
Arus bantuan dari berbagai pihak turut membantu warga melewati masa sulit. Pemerintah Kabupaten Sukabumi, BPBD, Dinas Sosial, hingga Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan dukungan untuk memenuhi kebutuhan para korban.
Bantuan tersebut mencakup bahan pangan, perlengkapan tidur, hingga dukungan untuk rencana pembangunan kembali permukiman adat. Bagi warga, perhatian tersebut memberikan rasa bahwa mereka tidak menghadapi musibah seorang diri.
Abah Hendrik menggambarkan kondisi itu dengan istilah Sunda kabangbraangkeun, yang menggambarkan sesuatu yang mampu mencerahkan dan sedikit mengobati kesedihan. Kepedulian banyak orang membuat warga tetap memiliki alasan untuk tersenyum di tengah kehilangan.
Warga Mulai Menatap Kehidupan Baru
Seiring waktu, rasa takut yang sempat kuat mulai berkurang. Warga kembali menjalankan aktivitas sehari-hari sambil mempersiapkan tahap berikutnya, yakni relokasi dan pembangunan permukiman baru.
Proses pembangunan nantinya tetap mengikuti tatanan adat dan nilai leluhur yang selama ini menjadi pegangan masyarakat Kasepuhan Ciptamulya. Warga berencana mengerjakannya secara gotong royong agar pembangunan tidak sekadar menghadirkan rumah baru, tetapi juga mempertahankan identitas kampung adat.
Musibah tersebut memang meninggalkan kehilangan besar. Namun, kekuatan spiritual, hubungan kekeluargaan, dukungan pemerintah, dan kepedulian masyarakat luas membantu warga Ciptamulya perlahan keluar dari bayang-bayang trauma. Kini mereka mulai menata kembali kehidupan dengan harapan bisa membangun masa depan yang lebih kuat.